Monday, 31 March 2014

PENINGKATAN HASIL BELAJAR KIMIA POKOK BAHASAN STOIKIOMETRI LARUTAN PADA SISWA KELAS XI-IPA3 SEMESTER II SMA NEGERI 101 JAKARTA MELALUI PERMAINAN KIMIA BERWAWASAN CET (CHEMOEDUTAINMENT)

 PENINGKATAN HASIL BELAJAR KIMIA POKOK
BAHASAN STOIKIOMETRI LARUTAN PADA SISWA KELAS XI-IPA3 SEMESTER II SMA NEGERI 101 JAKARTA MELALUI PERMAINAN KIMIA BERWAWASAN CET (CHEMOEDUTAINMENT)

Dapatkan File lengkapnya SMS 085642444991 Kode PTS SMA 068

ABSTRAK

Kata Kunci : Stokiometri, Permainan Kimia, Chemoedutainment.
Penelitian  ini  dilatarbelakangi  oleh  proses  pembelajaran  kimia  di  SMA Negeri 101 Jakarta yang masih menggunakan ceramah dan latihan soal sedang praktikum  jarang  dilakukan  karena  tidak  adanya  laboran,  sehingga  hasil  belajar kimi siswa-siswi   SMA Negeri 101 Jakarta   kurang   maksimal.   Dari   latar belakang  tersebut  dapat  ditemukan  rumusan  masalah  apakah  dengan  permainan kimia  berwawasan  CET  (Chemoedutainment)  siswa  kelas  XI  SMA Negeri 101 Jakarta dapat  meningkatkan  ketuntasan  hasil  belajar  kimia  pokok  bahasan stoikiometri larutan.  Tujuan dari penelitian ini adalah hasil yang akan dicapai dari pemecahan masalah. Bagi guru penelitian   ini bermanfaat untuk mengetahui pola dan strategi pembelajaran yang tepat. Selain hal tesebut penelitian ini juga dapat membuat  siswa  senang  pada  pelajaran  kimia  khususnya  materi  stoikiometrri larutan.
Permainan   Kimi Berwawasan   CET   merupakan   pengganti   kegiatan percobaan  (praktikum)  di  dalam  laboratorium  dengan  menggunakan  bahan,  alat serta   percobaan   yang   menarik.   Sehingga   dapat   mempermudah   sisw dalam memahami konsep stoikiometri larutan.
Subjek   dari   penelitian   ini   adala siswa-sisw kelas   XI-IPA3   SMA Negeri 101 Jakarta. Variabel  yang  diamati  dalam  penelitian  ini  adalah  hasil belajar  kimia  mencakup  nilai  kognitif,  afektif,  psikomotorik,  kinerja  guru  dan tanggapan  siswa  terhadap  pembelajaran.  Prosedur  penelitian  yang  pertama  kali dilakukan  adalah  observasi  awal  dengan  guru  mitra  untuk  mengetahui  keadaan awal  dari  subjek  penelitian.  Penelitian  ini  dirancang  menjadi  tiga  siklus,  setiap siklus   terdiri   dari   empat   tahapan   yaitu   perencanaan,   pemberian   tindakan, pengamatan  dan  refleksi.  Data  kualitatif  dianaliasis  secara  deskriptif  kualitatif. Sedangkan   data   kuantitatif   dianalisis   dengan   membagi   skor   yang   diperoleh dengan skor total dikalikan 100%.
Berdasarkan  analisis  data  yang  diperoleh,  nilai  kognitif  rata-rata  pada siklus    mencapai   59,41,   siklus   II   70,59,   siklus   III   67,35   dengan   standar ketuntasan 76,47%. Nilai psikomotorik rata-rata yang dicapai pada siklus I 63,7, siklus II 69,15, siklus III 77,32. Nilai afektif rata-rata yang dicapai adalah 70 pada siklus I, 74,12 pada siklus II, 77,06 pada siklus III. Permainan kimia berwawasan CET  dapat  meningkatkan  hasil  belajar  kimia  pada  pokok  bahasan  stoikiomertri larutan  baik  kognitif,  psikomotorik,  dan  afektif.  Akan  tetapi  perlu  diadakan persiapan   yang   maksimal   supaya   pembelajarannya   dapat   berjalan   dengan maksimal.  Disarankan  pula  agar  permainan  kimia  berwawasan  CET  ini  dapat diterapkan pada pokok bahasan yang lainnya.
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pembaharuan  di  bidang  pendidikan  terus  dilakukan  untuk  meningkatkan kualitas  pendidikan,  di  antaranya  adalah  pemberlakuan  Kurikulum  Berbasis Kompetensi (KBK) yang disempurnakan lagi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan  (KTSP).  Kurikulum  tersebut  menekankan  keterlibatan  siswa  secara aktif  dan  berusaha  menemukan  konsep  sendiri  dalam  proses  pembelajaran  di semua  mata  pelajaran  termasuk  kimia.  Guru  sebagai  fasilitator  dan  pendorong siswa untuk menggunakan keterampilan proses serta menerapkan inovasi model pembelajaran  sehingga  pembelajaran  kimimampu  mengembangkan  life  skill yang merupakan implementasi dari kurikulum KTSP.
Metode   mengajar   di   sekolah   dasar   sampai   perguruan   tinggi   masih monoton   menggunakan   metode   mengajar   secara   informatif,   pengajar   lebih banyak berbicara dan bercerita untuk menginformasikan semua fakta dan konsep sedangkan siswa hanya sebagai obyek pembelajaran saja. Dari fakta tersebut jelas bahwa  siswa  hanya  mendapat  sebatas  pengetahuan  yang  nantinya  akan  terukur dalam   penilaian   kognitif   saja.   Padahal   dalam   KTSP   siswa   dituntut   untuk  mengalami proses belajar. Siswa akan mudah memahami konsep yang rumit dan abstrak  jika  disertai  contoh-contoh  yang  konkrit,  contoh-contoh  yang  sesuai dengan   kondisi   sehari-hari   dan   mempraktekkannya   sendiri.   Hal   ini   berarti pembelajaran  yang  baik  harus  sesuai  dengan  indikator  KTSP  yaitu meliputi aspek kognitif, aspek psikomotorik dan aspek afektif.
SMA Negeri 101 Jakarta merupakan salah satu SMA swasta di tengah- tengah kota Semarang. Sehingga input siswa di sekolah tersebut masih tergolong rendah.  Siswa-siswanya  sebagian  besar  dari  kalangan  menengah  ke  bawah. Fasilitas  yang  ada  di  sekolah  tersebut  kurang  dimanfaatkan  secara  maksimal. Fenomena tersebut terlihat bahwa perustakan yang ada jarang sekali dikunjungi. Sebagian besar siswa mengatakan hanya 1 kali dalam seminggu ke perpustakaan. Sehingga  guru  harus  bisa  mengembangkan  pembelajaran  yang  bisa  memotivasi mereka untuk belajar lebih giat, khususnya pelajaran kimia.
Materi  kimia  merupakan  salah  satu  materi  yang  kurang  diminati  oleh siswa,  tidak  terkecuali  siswa-siswi  SMA Negeri 101 Jakarta  Semarang.  Berdasarkan angket  yang  dibagikan  pada  siswa,  28  dari  34  siswa  menjawab  kurang  tertarik dengan pelajaran kimia.
Berdasarkan   survei   dari   penulis,   di   SMA   Walisongo   metode   yang digunakan   sebagian   besar   adalah   ceramah   dengan   latihan-latihan   soal.   Hal tersebut  sesuai  dengan  hasil  wawancara  dengan  siswa  bahwasanya  19  dari  34 siswa  mengatakan  metode  yang  selama  ini  digunakan  adalah  ceramah  dengan latihan-latihan soal. Selain hal tersebut, mereka mengatakan bahwa mereka baru melakukan praktikum 1 kali di laboratorium. Hal tersebut tidak dipungkiri oleh guru  pengampu,  karena  laboratorium  yang  digunakan  masih  bergabung  dengan laboratorium  biologi   dan   fisika.   Sehingga   penggunaan   laboratorium   kurang maksimal.  Guru  juga  kesulitan  dalam  melakukan  persiapan  praktikum  karena tidak ada laboran yang membantu dalam persiapan praktikum. Dari fakta tersebut jelas bahwa metode yang digunakan hanya mampu mengukur aspek kognitif dan afektif saja sedangkan aspek psikomotorik belum maksimal terukur.
Selain beberapa hal di atas nilai ulangan blok I yang disurvei menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa kelas XI-IPA3 hanya mencapai 36,91 dengan nilai tertinggi 80  dan  nilai  terendah  0.  Standar  ketuntasan  belajar  belum  bisa  tercapai  karena standar   ketuntasan   belajar   yang   dicapai   hanya   29,41%.   Oleh   karena   itu dibutuhkan suatu metode atau media  yang dapat mencakup ketiga aspek tersebut dan meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pelajaran kimia, sehingga nilainya meningkat tetapi tidak menambah waktu yang tersedia.
Bertolak  dari  uraian  di  atas  diajukan  suatu  penelitian  yang  menawarkan suatu tindakan dalam proses belajar mengajar di kelas untuk meningkatkan hasil belajar  siswa  yang  ditunjukkan  dengan  adanya  perubahan  pada  indikator  lebih dari 75% siswa mendapatkan nilai ulangan minimal 60 dan terciptanya suasana kelas  yang  kondusif  untuk  pembelajaran.  Maka  beberapa  pokok  pikiran  bagi penulis memilih judul skripsi : “Peningkatan      Hasil    Belajar Kimia  PokokBahasan Stokiometri  Larutan  Pada  Siswa  Kelas  XI  Semester  II SMA            Walisongo Semarang Melalui Permainan Kimia Berwawasan Cet (Chemoedutainment)”
Penelitian   ini   berfokus   pada   peningkatan   hasil   belajar   kimi materi stokiometri larutan siswa     kelas    XI. Penelitian  ini direncanakandan dikolaborasikan  dengan  guru  pengampu  mata  pelajaran  setiap  periode  tertentu dilaksanakan diskusi refleksi untuk meningkatkan validitas pengamatan. Intensifnya  pelaksanan  penelitian  ini  tercermin  3  siklus  yang  direncanakan  dan disusun   dengan   penekanan   daya   tarik   sisw dengan   Praktikum   Percobaan Permainan  Kimia          sebagai  penerapan  CET  dalam  pembelajaran  pada  setiap siklusnya.
B.       Identifikasi Masalah
Berdasarkan observasi dan kolaborasi antara peneliti dan guru pengampu di SMA Negeri 101 Jakarta dapat diidentifikasi masalhnya sebagai berikut:
1.      Pembelajaran kimia masih dianggap pelajaran yang sulit bagi siswa
2.      Pembelajaran kimia di kelas XI-IPA3 masih kurang menyenangkan
3.      Media pembelajaran dan laboratorium kimia belum memadai
4.      Pendekatan pembelajaran apa yang dapat meningkatkan hasil belajar kimia
5.      Metode pembelajaran apa yang dapat meningkatkan aktivitas belajar dan dapat meningkatkan hasil belajar kimia kelas XI-IPA3 SMA Negeri 101 Jakarta Semarngang
C.       Pembatasan dan perumusan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas pada penelitian ini dibatasi pada  Peningkatan Hasil    Belajar Kimia  PokokBahasan Stokiometri  Larutan  Pada  Siswa  Kelas  XI  Semester  II SMA       Walisongo Semarang Melalui Permainan Kimia Berwawasan Cet (Chemoedutainment), sedangkan rumusan masalahnya adalah  “ apakah dengan penerapan permainan Chemoedutainment) siswa kelas XI-IPA3 SMA Negeri 101 Jakarta dapat mencapai peningkatan   ketuntasan   hasil   belajar  kimi pada   pokok   materi   stoikiometri larutan ?
D.      Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini tidak lain adalah untuk meningkatkan  ketuntasan   hasil   belajar   kimi melalui   permainan   kimi berwawasan   CET (Chemoedutainment) pada pokok materi stoikiometri larutan   siswa   kelas   XI   SMA Negeri 101 Jakarta   
E.       Manfaat Penelitian
a.       Bagi guru
1.      Mengetahui pola dan strategi pembelajaran yang tepat dalam upaya memperbaiki dan memudahkan mengajar konsep stokiometri larutan.
2.      Memudahkan dalam mengambil nilai kognitif, afektif dan psikomotorik.
b.      Bagi siswa
(1) Membuat   siswa   senang   dalam   mengikuti   pembelajaran   kimi khususnya materi stoikiometri larutan.
(2) Proses  komunikasi  lancar  karena  terjadi  interaksi  antara  siswa  dengan  siswa dan antara guru dengan siswa.
c. Bagi sekolah
Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran, khususnya mata pelajaran kimia.

DAFTAR PUSTAKA

Jmc Johari dan M Rachmawati. 2004. Kimia SMA Jilid 2 Kelas XI-IPA3. Jakarta :  Esis Erlangga.
Michael Purba. 2005.  Kimia untuk SMA Kelas XI-IPA3 Jilid 2B .Jakarta : Erlangga. Mulyasa.2004.   Kurikulum   Berbasis   Kompetensi,   Konsep,   Karakteristik   dan Implementasi. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Nurul  Zuriah.2003.  Penelitian  Tindakan  Kelas  (  Classrom  Based  Research) dalam Bidang Pendidikan dan Sosial. Malang : Bayumedia Publising.
Rusmansyah   dan   Yudha   Irhasyuarna.  Penerapan   Metode   Berstruktur   dalam meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Konsep Persamaan Reaksi Kimia. http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/35/penerapan metode_latihan _berstruktur.htm. 4 Februari 2007.
Slameto.  2003.  Belajar  dan  Faktor-faktor  yang  Mempengaruhinya.  Jakarta  : Rinekacipta.
Suharsimi  Arikunto.  2002.  Dasar-dasar  Evalusi  Pendidikan.  Jakarta  :  Bumi
Aksara.
                                             2002.   Prosedur   Penelitian   Suatu   Pendekatan   Praktik. Jakarta : Rinekacipta.
Sumarna Surapranata.2005.Analisis, Validitas, reliabilitas dan Interpretasi HasilTes Implementasi Kurikulum 2004.Bandung : Remaja Rosda Karya.
Yunita.2006. Panduan Demonstrasi dan Percobaan Permainan kimia untuk SD, SMP, SMA. Bandung : Pudak Scientific.
READ MORE - PENINGKATAN HASIL BELAJAR KIMIA POKOK BAHASAN STOIKIOMETRI LARUTAN PADA SISWA KELAS XI-IPA3 SEMESTER II SMA NEGERI 101 JAKARTA MELALUI PERMAINAN KIMIA BERWAWASAN CET (CHEMOEDUTAINMENT)

UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP MATERI PENDIDIKAN KEWARNEGARAAN MELALUI METODE BERMAIN PERAN DAN DISKUSI PADA SISWA KELAS IX-B SMPN 3 NGUNUT KABUPATEN TULUNGAGUNG

UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP  MATERI PENDIDIKAN KEWARNEGARAAN  MELALUI METODE BERMAIN PERAN  DAN DISKUSI  PADA SISWA KELAS IX-B SMPN 3 NGUNUT  KABUPATEN TULUNGAGUNG

 Dapatkah File Lengkap dengan SMS 085642444991 Kode PTK SMP 59

 

ABSTRAK
…………………….., 2005,  “Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Materi Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Metode Bermain Peran dan Diskusi Pada Siswa Kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung”.
Kata Kunci :  Metode Bermain Peran dan Diskusi, Penguasaan Konsep, dan Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya, sehingga menumbuhkan dan  memiliki mental yang baik untuk dapat melaksanakan kegiatan pembangunan.
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan penguasaan konsep Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut Kabupaten Tulungagung dengan menggunakan metode Bermain peran dan diskusi.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP negeri 3 Ngunut Kabupaten Tulungagung pada siswa kelas IX-B pada semester ganjil tahun pelajaran 2005/2006.  Jumlah siswa ada 35 orang.
Hasil evaluasi menunjukkan terdapat kenaikkan yang tuntas belajar dari 23 siswa (65,71%) pada pra tindakan menjadi 27 siswa (77,14  %) pada siklus I, dan menjadi 30 siswa (85,71%) pada siklus II.  Sedangkan yang belum tuntas belajar mengalami penurunan dari 12 siswa (34,29 %) pada pra tindakan menjadi 8 siswa (22,86 %) pada siklus I, dan menjadi 5 siswa (14,29 %) pada siklus II.
Hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa “jika metode bermain peran dan diskusi digunakan, maka penguasaan konsep pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas IX-B SMPN 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung akan meningkat”, dapat diterima.
Penelitian ini juga memberikan rekomendasi kepada para guru agar semakin aktif dan kreatif dalam memilih metode dalam kegiatan belajar mengajar agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Kepada Kepala Sekolah hendaknya dapat mengambil kebijakan tentang perlunya melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi setiap guru, agar motivasi belajar siswa juga semakin meningkat. Selain itu kepada Kepala Sekolah hendaknya dapat mengusahakan agar ketersediaan sarana bagi para guru dalam melaksanakan PTK terus ditingkatkan.

BAB  I

PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang Masalah
Setiap sekolah selalu berharap bahwa penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. Secara umum keberhasilan ini dapat diukur dengan tingkat prestasi yang diperoleh. Sebenarnya pernyataan tersebut sangat keliru. Tolok ukur keberhasilan pendidikan seharusnya diukur dari ‘in-put’ dan ‘out-put’. Seberapa besar peningkatan dari prestasi yang dicapai oleh siswa pada saat dia masuk sekolah tersebut dan pada saat dia keluar dari sekolah tersebut.
Upaya-upaya yang dilakukan misalnya dengan mengirim para guru untuk mengikuti kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) di tingkat kepengawasan.  Pengetahuan  para guru dapat lebih meningkat, sehingga penyelenggaraan belajar-mengajar dapat lebih baik lagi. Penggunaan metode mengajar yang bervariasi juga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh guru untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Pendekatan pembelajaran yang paling sesuai adalah pembelajaran yang berorientasi pada kepentingan siswa atau siswa sentris. Hal ini sesuai dengan pendekatan pembelajaran diskaveri/inkuiri yang menunjukkan dominasi peserta didik selama proses pembelajaran, sedangkan guru sebagai fasilitator. Selaras dengan uraian di atas adalah penggunaan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), yaitu konsep pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat di mana dia berada.
Bermain peran merupakan salah satu metode mengajar yang dapat menumbuhkan motivasi pada siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Metode bermain peran mengajak siswa untuk berperan menjadi orang tertentu dalam masyarakat. Pembelajaran ini membutuhkan pengalaman yang luas dari siswa. Dengan metode bermain peran yang dilaksanakan dengan baik, maka siswa dapat lebih mudah untuk dapat memahami materi pelajaran yang disajikan, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Selain itu, kegiatan diskusi juga dapat melatih siswa untuk berani mengungkapkan pendapatnya. Dengan metode diskusi juga dapat membantu siswa untuk dapat menghargai pendapat orang lain dan menerima pendapat orang lain. Kondisi ini dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menghadapi kenyataan hidup di masyarakat, dengan segala macam kemajemukannya.
Dengan kedua metode di atas, yang dilaksanakan secara sinergis, diharapkan akan mampu membangkitkan minat belajar siswa sehingga penguasaan konsep materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan akan semakin meningkat.
Berdasarkan uraian di atas, maka kami mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul " Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Materi Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Metode Bermain Peran dan Diskusi Pada Siswa Kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung ".
1.2  Fokus Penelitian
Setiap guru selalu berusaha agar dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Berbagai cara dilakukan, salah satu diantaranya adalah penggunaan metode mengajar secara tepat. Dengan metode bermain peran dan diskusi yang dikombinasikan secara tepat akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, maka permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut: "Apakah penggunaan metode bermain peran dan diskusi dapat meningkatkan penguasaan konsep materi Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas  Kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung 
1.3  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penguasaan tentang konsep materi Pendidikan Kewarganegaraan  pada siswa kelas I SDN Merjosari V, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, melalui metode bermain peran dan diskusi.
1.4  Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah “Jika metode Bermain Peran dan diskusi digunakan dalam pembelajaran, maka penguasaan konsep materi Pendidikan Kewarganegaraan siswa  Kelas IX-B SMP Negeri 3 Ngunut, Kabupaten Tulungagung akan meningkat”.
1.5     Manfaat Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, hasil dari penelitian ini  diharapkan  dapat  memberikan kontribusi secara positif dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Kontribusi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.5.1           Bagi siswa, penggunaan metode bermain peran dan diskusi dalam kegiatan pembelajaran dapat lebih meningkatkan pemahaman konsep bahan ajar Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
1.5.2           Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih metode dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi tertentu yang dialami oleh siswa, sehingga dapat meningkatkan penguasaan materi pelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
1.5.3           Bagi Kepala Sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk merumuskan kebijakan yang mengarah pada peningkatan prestasi belajar siswa khususnya di lingkungan SD.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, Supardi.  2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Pendidikan Kewarganegaraan, Buku 2. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani. 2004. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD.
Ketetapan MPR RI No. IV/MPR/1999, Tentang GBHN. Surabaya: Penabur Ilmu.
Miarsa, Yusufhadi. 1995. Peningkatan Mutu Pendidikan, Jurnal Teknologi Pembelajaran. Malang: IPTPI.
Mulyasa, E.. 2005. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Nazir, Moh.  1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Oemar Hamalik. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Saiful Rachman, Yoto, Syarif Suhartadi, Suparti. 2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah. Surabaya: SIC Bekerjasama Dengan Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur.
Slameto. 1991. Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit Semester (SKS). Jakarta: Bumi Aksara.
Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
READ MORE - UPAYA MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP MATERI PENDIDIKAN KEWARNEGARAAN MELALUI METODE BERMAIN PERAN DAN DISKUSI PADA SISWA KELAS IX-B SMPN 3 NGUNUT KABUPATEN TULUNGAGUNG