Monday, 3 August 2015

Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning

Meningkatkan Prestasi Belajar Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning (Belajar Tuntas) di Kelas VII-A MTs Al-Mardliyah Pameungpeuk Garut

ABSTRAK

Untuk mendapatkan File dari BAB1-5 hub 0856 42 444 991

Berdasarkan latar belakang bahwa peserta didik dipandang dalam kegiatan pembelajaran sebagai individu dan sosial. Setiap peserta didik memiliki perbedaan minat (interest), kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience), dan cara belajar (learning style). Sehingga guru disamping memikirkan bahan pelajaran, hendaklah ia memikirkan cara agar mudah dimengerti dan dapat meningkatkan prestasi. Salah satu metodenya adalah dengan Mastery Learning (belajar tuntas).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi guru menggunakan Mastery Learning dalam pembelajaran akidah akhlak di MTs. Al-Mardliyah Pameungpeuk Garut dan untuk mengetahui daya serap peserta didik dalam pembelajaran akidah akhlak dengan Mastery Learning.
Berpijak dari masalah yang ada, pembelajaran Mastery Learning dalam mata pelajaran akidah Akhlak harus disesuaikan dengan karakteristik penguasaan materi yang dipelajari. Menurut hasil pengamatan dan observasi di lapangan khususnya di MTs. Al-Mardliyah Pameungpeuk  Garut, fenomena yang terjadi dewasa ini cenderung adanya penurunan prestasi belajar siswa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, baik intern maupun ekstern. Salah satu yang menjadi faktor menurunnya siswa adalah metode yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar, sehingga hal ini membuat peneliti untuk mencoba menggunakan Mastery Learning untuk meningkatkan prestasi siswa.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang menggunakan alat pengumpul datanya dengan observasi, wawancara dan tes. Pendekatan analisis yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.
Berdasarkan hasil pengolahan data, ditemukan hasil prosentasi dari para siklus adalah sebagai berikut:
-          Pra-Siklus, nilai rata-rata hasil prestasi belajar siswa adalah 62,71%
-          Siklus I, dihasilkan nilai rata-ratanya adalah 75,57%
-          Siklus II, dihasilkan nilai rata-ratanya adalah 80%

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Pembangunan Nasional di bidang pendidikan merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Hal ini dalam rangka mewujudkan masyarakat yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi dan disiplin dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Usaha menuju terwujudnya visi pendidikan nasional tersebut diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional, yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. Dalam rangka ini pula diberlakukan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Departemen Agama, 2005: 3).
Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, peran serta madrasah sangat diperlukan, karena di samping mengajarkan sejumlah bidang ilmu pengetahuan umum, juga sebagai ciri khasnya, diajarkan bidang agama Islam yang mendalam untuk menggali ilmu pengetahuan agama.
Seperti dijelaskan oleh Ali (2004: 1), inti proses pendidikan secara formal adalah mengajar, sedangkan inti proses pengajaran adalah peserta didik belajar. Oleh karena itu mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar, sehingga peristilahan kependidikan kita dikenal ungkapan Proses Belajar Mengajar (PBM) atau proses pembelajaran.
Menurut Sudjana (2005: 1) ada tiga veriabel utama yang saling berkaitan dengan strategi pembelajaran di sekolah. Ketiga variabel tersebut adalah kurikulum, guru, dan pembelajaran atau proses belajar mengajar.
Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil pembelajaran, melainkan mencakup interaksi dengan semua sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil yang bermakna.
Peserta  didik dipandang dalam kegiatan pembelajaran  sebagai individu dan sosial. Setiap peserta didik memilki perbedaan minat (interest), kemampuan (ability), kesenangan (preference), pengalaman (experience), dan cara belajar (learning style). Peserta  didik  tertentu mungkin lebih mudah belajar dengan cara mendengar dan membaca, sedangkan peserta didik lain dengan cara melihat, dan peserta didik yang lainnya lagi belajar dengan cara melakukan (learning by doing). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik (Sutrisno, 2005: 63).
Muhammad (1981: 8) mengatakan bahwa setelah guru memikirkan bahan pelajaran, hendaklah ia memikirkan cara menyampaikan bahan ke dalam pikiran peserta didik, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, dan keadaan peserta didik. Guru harus memikirkan metode yang paling baik untuk menyusun materi pembelajaran, dan bahan pembelajaran sebagai mata rantai yang sambung-menyambung.
Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka pemikiran demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual. Peserta didik sebagai individu memliki perbedaan sebagaimana disebutkan di atas. Pemahaman ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru dengan peserta didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan mengajar.
Penguasaan kemampuan pelajaran Aqidah Akhlak diperlukan strategi yang tepat dan cocok. Salah satu strategi yang diterapkan di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah khususnya dalam pelajaran Aqidah Akhlak adalah mastery learning. Strategi ini meliputi dua kegiatan, yaitu program pengayaan dan perbaikan (Arikunto, 1988: 31).
Proses pembelajaran  dengan menggunakan prinsip Belajar tuntas (mastery learning) menguntungkan bagi peserta didik, karena dengan kegiatan pembelajaran ini setiap siswa dapat dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua peserta didik dapat belajar dengan hasil  yang baik juga akan mempunyai imbas pada pandangan  bahwa guru dapat mengajar dengan baik.
Belajar tuntas pada dasarnya akan menjadikan peserta didik memiliki kemampuan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, mengecilkan perbedaan intelegensi tinggi dengan intelegensi normal. Belajar tuntas (mastery learning) menjadikan peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi intelegensi tinggi akan mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang intelegensi normal mencapai sebagian tujuan pembelajaran atau tidak mencapai sama sekali tujuan pembelajaran (Yamin 2007: 121).
Belajar tuntas dilandasi oleh dua asumsi. Pertama, mengatakan bahwa adanya korelasi antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial (bakat). Hal ini dilandasi teori tentang bakat yang dikemukakan oleh Carrol (1953) yang menyatakan bahwa apabila peserta didik didistribusikan secara normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial untuk beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama dan hasil belajarnya diukur, ternyata akan menunjukkan distribusi normal. Hal ini berarti bahwa peserta didik yang berbakat cenderung untuk memperoleh nilai tinggi. Kedua, apabila pelajaran dilaksanakan secara sistematis, maka semua peserta didik akan mampu  menguasai bahan yang disajikan kepadanya, (Mulyasa, 2004: 53-54).
Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan penulis di lapangan, diperoleh gambaran bahwa penerapan strategi mastery learning dalam pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs Al Mardliyah sudah sejak lama dilakukan oleh guru-guru pengampu mata pelajaran Aqidah Akhlak. Hal ini dapat dilihat bahwa di satu sisi latar belakang pendidikan peserta didik beraneka ragam, sebagian ada yang berasal dari Sekolah Dasar plus Madrasah Diniyah, serta sebagian lagi berasal dari Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, menyebabkan peserta didik Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah masih memiliki perbedaan-perbedaan individual dalam memahami pembelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan strategi mastery learning. Sementara itu, guru yang mengampu bidang Aqidah Akhlak bukan berasal dari jurusan Aqidah Akhlak, tetapi didukung oleh faktor sarana dan prasarana yang memadai, proses pembelajaran berlangsung secara continuitas dan sesuai dengan perencanaan pembelajaran.
Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Meningkatkan Aktivitas Prestasi Belajar Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning (Belajar Tuntas) (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-A MTs Al Mardliyah Garut).”
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi pokok masalah  dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana strategi guru menggunakan mastery learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah?
2.      Bagaimana daya serap peserta didik dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dengan mastery lerning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah?
C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
a.      Mendeskripsikan strategi guru dalam mastery learning di bidang pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah.
b.      Mendeskripsikan daya serap peserta didik dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dengan mastery learning di Madrasah Tsanawaiyah Al Mardliyah.
2.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
a.      Bagi Siswa
Melalui hasil penelitian ini diharapkan siswa akan lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran Aqidah Akhlak. Di samping itu siswa akan mendapatkan pembelajaran yang variatif serta berperan aktif, sehingga dimungkinkan dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
b.      Bagi Guru
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung bagi guru-guru yang terlibat untuk memperoleh pengalaman baru dalam menerapkan metode pembelajaran yang menarik perhatian siswa, tidak monoton dan inovatif. Sehingga pada perkembangan selanjutnya guru akan lebih kreatif dan berusaha menghilangkan kejenuhan siswa melalui penerapan model pembelajaran tersebut.
c.      Bagi sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengalaman pada guru-guru lain sehingga memperoleh pengalaman baru untuk menerapkan pendekatan inovasi dalam pembelajaran.
READ MORE - Akidah Akhlak Melalui Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning

Meningkatkan Kemampuan Guru melalui Program Pembinaan Profesional Guru

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENGEFEKTIFKAN PEMBELAJARAN MELALUI PROGRAM PEMBINAAN PROFSIONAL GURU DAN SUPERVISI KELAS DI SMA NEGERI 101 JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2007/2008

BAB I
PENDAHULUAN

Untuk Mendapatkan File dari BAB1-5 hub 0856 42 444 991

A.    Latar Belakang Masalah
Perkembangan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan hal-hal yang harus segera direspon di dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Beberapa perubahan yang terjadi di Indonesia dan berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan. Pertama, pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pembagian Kewenangan antara Pusat dan Daerah telah membawa perubahan pada system pengelolaan pendidikan nasional, dari sentralistik kepada desentralistik. Kedua, penetapan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta beberapa peraturan perundang-undangan lainnya telah menjadi arah baru  bagi pengelolaan pendidikan nasional sebagai suatu sistem. ketiga, perubahan global dalam bernagai sektor kehidupan yang terjadi demikian cepat, merupakan tantangan dan peluang nasional bagi upaya peningkatan mutu pendidikan. Keempat, ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja perlu segera dikaji secara serius, konsisten, dan berkelanjutan. Dengan demikian diperlukan adanya paradigm baru dalam pengelolaan pendidikan yang mampu mempersiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi multi dimensial. Salah satu upaya strategis yang dilakukan pemerintah dimasa mendatang adalah pengembangan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Pendidikan merupakan kebutuhan dan hak asasi setiap manusia untuk mempersiapkan kehidupannya, baik sebagai makhluk pribadi maupun social. Kebutuhan dasr manusia dalam peran pribadinya berkaitan dengan kebutuhan mempertahankan hidup, dan memerankan diri dalam system sosialnya.
Pada tingkat persekolahan, pelaksanaan pendidikan menuntut kemampuan guru dapat mengelola proses pembelajarannya secara efektif. Tingkat produktivitas sekolah dalam memberikan pelayanan secara efisien kepada pengguna (peserta didik/masyarakat) akan sangat tergantung pada kualitas guru-gurunya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan pada keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jaeab individual dan kelompok. Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana). Implementor (pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan factor yang paling dominan, karena ditangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya.
Peran strategis guru tersebut menuntut pembinaan dan pengembangan yang terus-menerus dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang mengglobal dewasa ini. Upaya meningkatkan kemampuan professional guru memerlukan pembinaan yang terus-menerus melalui supervise atau pengawasan. Pelaksanan pengawasan yang ditekankan pada proses pembelajaran lebih dikenal dengan istilah supervise pengajaran (educational supervision atau instructional supervision).
Mengajar merupakan suatu pekerjaan yang kompleks, terutama bagi seorang guru muda yang belum banyak pengalaman. Pada saat guru sedang mengajar, pusat perhatiannya harus tertuju pada dua hal, yakni: (1) siswa yang harus aktif berpartisipasi dalam proses belajar mengajar, dan (2) guru itusendiri yang sedang mengajar dengan menerapkan strategi mengajar yang dipilihnya.
Pada umumnya guru hanya memusatkan perhatian kepada siswanya saja, sehingga ia mengabaikan unjuk kerja mengajarnya sendiri yang dimungkinkan menjadi penyebab terjadinya kegagalan dalam proses belajar mengajar di kelas. Sebaliknya, jika guru terlalu memusatkan perhatian pada unjuk kerja mengajarnya sendiri dan mengabaikan proses belajar siswanya, maka dimungkinkan guru mengajar dengan baik, tetapi siswanya tidak belajar dengan aktif. Jadi perhatian guru hars simultan tertuju pada dirinya sendiri dan siswanya dalam proses interaksi belajar dan mengajar yang efektif agar dapat mencapai tujuan pembelajaran seperti yang telah direncanakan. Disamping hal tersebut di atas, perkembangan IPTEK dewasa ini juga menuntut guru selalu meningkatkan kemampuannya untuk menguasai IPTEK, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan dan pengajaran. Sehingga kemampuan profesionalnya tidak jauh tertinggal, dan unjuk kerja mengajarnya selalu up to dete.
Masih banyak lagi faktor-faktor lain yang menyebabkan terbatasnya kemampuan guru dalam melaksanakan fungsi dan tugas pokoknya,  padahal guru merupakan ujung tombak keberhasilan penididikan dan pengajaran di sekolah. Jadi guru memerlukan bantuan supervise pengajaran, terutama dari kepala sekolah, pengawas sekolah, maupun supervise pengajaran, terutama dari kepala sekolah, pengawas sekolah, maupun dari guru yang lebih senior (baik pengalaman maupun kemampuannya). Supervise pengajaran perlu diarahkan pada upaya-upaya yang sifatnya memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk berkembang secara professional. Sehingga mereka lebih mampu melaksanakan tugas pokoknya, yaitu memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran. Supervise pengajaran merupakan kegiatan-kegiatan yang “menciptakan” kondisi yang layak bagi pertumbuhan professional guru-guru secara terus-menerus. Kegiatan supervise memungkinkan guru-guru memperoleh arah diri dan belajar memecahkan sendiri masalah-masalah yang dihadapi dalam pembelajaran dengan imajinatif, penuh inisiatif dan kreativitas, bukan konformitas” (Djam’an Satori, 1989).
Beberapa alasan yang mendasari pentingnya supervisi-pengajaran. Pertama, supervisi pengajaran bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Kedua, supervisi pengajaran dapat memadukan perbaikan pengajaran secara relative menjadi lebih sempurna secara bertahap. Ketiga, supervisi pengajaran relevan dengan nuansa kurikulum yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar secara tuntas, sehingga supervisi pengajaran memberikan dukungan langsung pada guru di dalam mengupayakan tercapainya tingkat kompetensi tertentu pada siswa. Keempat, supervisi pengajaran merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan para guru.
Dalam konsep supervisi pengajaran tercakup dau konsep yang berbeda, walaupun pada pelaksanaanya saling terkait, yaitu supervisi kelas dan supervisi klinis. Supervisi kelas dimaksudkan sebagai upaya untuk mengidentifikasi permaslahan pembelajaran yang terjadi dio dalam kelas dan menyusun alternative pemecahannya. Supervisi klinis merupaka layanan professional dari kepala sekolah dan pengawas, karena adanya masalah yang belum terselesaikan dalam pelaksanaan supervisi kelas. Sergiovanni dan Starrat (1983) menyebutkan bahwa supervisi kelas bersifat top-down, artinya perbaikan pengajaran ditentukan oleh pengawas/kepala sekolah, sedangkan supervisi klinis bersifat bottom-down, yaitu kebutuhan program ditentukan oleh persoalan-persoalan otentik yang dialami para guru.
Ketika seorang guru menjelaskan pelajaran di depan kelas, maka pada saat itu terjadi kegiatan mengajar, tetapi dalam kegiatan itu tak ada jaminan telah terjadi kegiatan belajar pada setiap siswa yang diajar. Kegiatan belajar mengajar (KBM) dikatakan efektif hanya apabila dapat mengakibatkan atau menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa.
Arista  (dalam Depdiknas,1999:4) mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk mengubah prilakunya. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar.
Ada tiga komponen utama yang paling berkaitan dan memiliki kedudukan strategis dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Ketiga komponen tersebut adalah kurikulum, guru dan pembelajaran, ketiga komponen dimaksud, guru menduduki posisi sentral sebab peranannya sangat menentukan. Seorang guru diharapkan mampu menjabarkan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum melalui pembelajaran untuk siswa secara optimal.
Djazuli (dan Depdikbud,1993a:2) mengemukakan bahwa seorang guru dituntut mewakili wawasan yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diajarkannya dan pengajaran kepada siswa. Kedua wawasan tersebut sesungguhnya merupakan suatu kesatuan wawasan professional guru.
Guru harus selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya, pengetahuan, sikap dan keterampilannya secara terus-menerus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk paradigma baru pendidikan yang menerapkan Manajemen Barbasis Sekolah (MBS) dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru diarahkan untuk peningkatan mutu pembelajaran dan diharapkan berdampak pada hasil belajar siswa.
Tinggi rendahnya mutu pembelajaran dapat disebabkan oleh berbagai factor termasuk rendahnya wawsan profesionalisme guru. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa guru cenderung kurang kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran, terbukti dari pengakuan guru-guru yang menjadi subjek dalam penelitian dengan menjadikan ceramah sebagai pilihan utama strategi mengajarnya.
Strategi yang monoton kurang mampu memotivasi siswa dalam belajar serta kurang mampu menggali dan mengoptimalkan potensi siswa. Rahman (1999:4) mengemukakan bahwa rendahnya kualitas proses pembelajaran kerena penggunaan metode mengajar yang monoton dan tidak bervariasi. Berdasarkan hasil diskusi terbatas dengan para guru di SMA N 101 Jakarta, diketahui bahwa rendahnya wawasan profesionalisme guru dimungkinkan karena beberapa alasan antara lain: (1) rendahnya kesadaran guru untuk memperbaharui pengetahuannya meskipun telah lama diangkat menjadi guru, (2) kesempatan bagi guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan profesional sangat terbatas, baik dari segi jumlah maupun dari intensitasnya, (3) pertemuan-pertemuan guru sejenis kurang aktif, (4) supervisi pendidikan yang bertujuan memperbaiki proses pembelajaran cenderung menitikberatkan pada aspek administrasi, dan (5) pemberian kredit jabatan fungsional guru yang ditunjukan untuk memacu kinerja guru pada prakteknya hanya bersifat formalitas.
Berkaitan dengan keadaan di atas, Glickman (dalam  Depdikbud,1999:19) membagi perilaku guru berdasarkan pada dua hal yaitu komitmen dan kemampuan guru memecahkan masalah pembelajaran. Maka untuk mengatasi rendahnya wawasan professional guru disusun upaya-upaya yang terencana, sistematis dan berkesinambungan dalam program pembinaan profesionalisme guru yang diarahkan untuk meningkatkan komitmen dan kemampuan guru dalam memecahkan masalah pembelajaran, sehingga diharapkan pembelajaran dapat lebih efektif dengan mengacu pada pencapaian hasil belajar oleh siswa.
Program tersebut merupakan salah satu program pengembangan sekolah sehingga manajemen sekolah dikembangkan pada pemberdayaan potensi yang dimiliki sesuai kondisi sekolah termasuk penyediaan sarana dan prasarana pengembangan diri guru.

B.               Identifikasi Masalah
Pelaksanaan supervisi pengajaran yang selama ini berlangsung dilaksanakan oleh Kepala Sekolah dan pengawas sekolah. Kepala sekolah dan pengawas sekolah mempunyai kewajiban untuk melaksanakan supervisi untuk mengukur tingkat kesiapan atau profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar baik yang menyangkut administratif maupun edukatif dan didukung oleh instrument yang memberi arah dalam mengumpulkan data sebagai bahan analisis.
Penekanan pada aspek administratif dan edukatif dalam pelaksanaan supervisi ternyata berdampak pada kurangnya perhatian kepala sekolah maupun pengawas sekolah terhadap tingkat komitmen guru melalui supervisi secara sistematis dan terprogram, padahal komitmen guru sangant mempengaruhi efektifitas dan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Untuk itu diperlukan adanya supervisi untuk meningkatkan kometmen guru-guru dengan mengoptimalkan pendekatan ilmiah dan pendekatan kolaboratif. Dengan pendekatan ilmiah supervisor dapat menggunakan fakta-fakta empiris dalam melakukan pembinaan, sedangkan dengan pendekatan kolaboratif tercipta hubungan konsultatif, kolegial dan demokratis antar supervisor dengan guru yang disupervisi (supervisee).
Perpaduan dari pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan komitmen guru-guru dalam melaksanakan tugas. Namun untuk membuktikan kebenarannya, tidak lanjut penelitian perlu dilaksanakan.

C.        Rumusan Masalah
Berdasarka latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut.
1.  Sejauh mana penerapan pendekatan kolaboratif dalam supervisi kelas dapat meningkatkan komitmen guru-guru SMA Negari 101 Jakarta.
2.    Adakah kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan supervisi kelas yang dikombinasikan dengan pendekatan kolaboratif?
3. Apakah dengan program pembinaan professional, kemampuan guru dalam mengefektifkan pembelajaran dapat ditingkatkan?
4.   Kendala apa saja yang ditemukan dalam penerapan pembinaan professional guru di SMA 101 Jakarta.

D.               Pemecahan Masalah
pengawas sekolah dan kepala sekolah sebagai peneliti bersama guru-guru sebagai subjek penelitian secara bersama-sama mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran dan komponen guru. Selanjutnya diidentifikasi alternative langkah-langkah pemecahan masalahnya. Dari alternative langkah-langkah pemecahan masalah itu ditentukan beberapa langkah sebagai solusi pemecahan masalah dan dilaksanakan secara terprogram dalam upaya peningkatan kemampuan guru untuk mengefektifkan pembelajaran.
Langkah-langkah tersebut disusun dalam program pembinaan professional guru dan dilaksanakan dengan mengefektifkan sarana pengembangan diri guru, yaitu: (1) mengadakan pelatihan guru internal sekolah, dan melibatkan guru dalam program-program pelatihan di tingkat yang lebih luas, (2) mengaktifkan musyawarah guru sejenis dengan menjalin kerjasama dengan sekolah lain yang segugus untuk saling bertukar pengalaman dalam mengefektifkan pembelajaran maupun mengatasi masalah-masalah pembelajaran di kelas, (3) melaksanakan supervisi pendidikan secara intensif dengan menekankan pada pemberian bantuan untuk perbaikan pembelajaran, dan (4) memberi penilaian melalui angka kredit jabatan fungsional guru secara objektif untuk meningkatkan kinerja guru.

E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.   Tujuan Penelitian
a)   Meningkatkan komitmen guru agar dapat mencurahkan waktu dan tenaga untuk mengembangkan sikap profesionalismenya.
b) Meningkatkan kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalamanfaath dalam pembelajaran untuk mengefektifkan pembelajaran.
c)   Memotivasi guru dalam meningkatkan kinerjanya.
2.   Manfaat hasil Penelitian
a)  Sekolah, mengefektifkan pengelolaan pembelajaran yang berdampak pada peningkatan mutu sekolah.
b) Guru, meningkatkan wawasan professional guru sehingga termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya.
c) Siswa, mengmbangkan potensi yang dimiliki oleh siswa secara optimal sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.


DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud,1999. Sistem Pengembangan Profesi Tenaga Kependidikan. Jakarta: Depdikbud.
--------------, 1993a. Pendidikan Tenaga Kependidikan Berdasar Kompetensi, Jakarta
---------------, 1993b. Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Pembinaan Kelembagaan, Jakarta.
Depdiknas.2003. Undang-Undang republic Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.
---------------. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
Pidarta, Made. 1992. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineke Cipta.
Purwanto, Ngalim, 1998. Administrasi dan supervisi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Rusyan, A.Tabrani & H.Es.Hamijaya. 1992. Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Jakarta: Nine Karya Jaya.
Sahertian, Piet A. 1992. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Sardiman A.M.1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
Soekamto, Toeti & Udin Saripudin Winataputra, 1997. Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud.
Soetopo, Hendyat. 1988. Kepemimpinan dalam pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
READ MORE - Meningkatkan Kemampuan Guru melalui Program Pembinaan Profesional Guru

Pendekatan Diskusi Interaktif Dalam Peningkatan Pelayanan Dasar BK



Pendekatan Diskusi Interaktif Dalam Peningkatan Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Pada SMA dan SMK Binaan di Kota Padang


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Konselor merupakan tenaga kependidikan, seyogianya menjadi bagian yang integral dari seluruh upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Dalam kerangka reformasi di bidang otonomi pendidikan yang telah digelindingkan yaitu manajemen berbasis sekolah, sudah saatnya unjuk kerja konselor sekolah difokuskan pada standar kompetensi dengan bekerja secara profesional.

Dalam kontek pengembangan profesi pengawas sekolah, memenuhi tuntutan Permen No. 12 Tahun 2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah / Madrasah diadakan Penelitian Tindakan Sekolah ( PTS ) mengemukakan urgensi dan efektivitas pelayanan konseling yang dilaksanakan oleh konselor pada SMA dan SMK binaan.

Unjuk kerja konselor dalam melaksanakan Pelayanan Konseling mengaju pada empat bidang bimbingan: ( bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir), dan jenis-jenis pelayanan konseling ( orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok, konsutasi dan mediasi ), serta kegiatan pendukung bimbingan ( aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus ) yang dikenal dengan “BK pola 17 plus”. Indikator kualifikasi konselor dapat diukur melaui pengetahuan, ketrampilan dan sikap seperti tingkat pendidikan ( S 1 ). Kesadaran diri ( Self awareness ) dan etos kerja. Konselor profesial bekerja secara ikhlas serta menghasilkan produktifitas yang lebih besar.

Memperhatikan kenyataan konselor SMA dan SMK binaan saat ini, data menunjukan bahwa konselor sekolah banyak yang belum memenuhi standar kualifakasi akademik : sarjana Pendidikan ( S 1 ), dan memiliki sartifikat guru dalam jabatan. Bagi konselor yang belum memenuhi standar kualifakasi itu, diduga mungkin dan atau mampu melaksanakan layanan konseling bimbingan kelompok tugas “ BK Pola 17 Plus “ secara administratif dan bermanfaat.

Laporan hasil supervisi Pengawas Sekolah, disampaikan dalam Rapat Pengawas dengan Kepala Dinas beserta jajaranya pada tanggal 27 juni 2008 . Melahirkan surat edaran Dinas Pendidikan Kota Padang No. 2563 / 420. DP / KPMP / 2008 tentang Peningkatan Mutu Pembelajaran, secara ekplesit Kepala Dinas Pendidikan menyatakan bahwa Guru harus membuat perangkat pembelajaran, setiap sekolah type C harus memiliki minimal 1 ( satu ) orang Konselor dengan tugas melaksanakan Pelayanan Dasar, Pelayanan Responsif, Pelayanan Perencanaan Indidual dan Pelayanan Dukungan Sistem.

Depdiknas (2008) pelayanan dasar merupakan upaya pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik melalui pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis. Achmad JN (2006, hal. 17) pelayanan dasar bimbingan bertujuan membantu peserta didik mengembangkan prilaku efektif, akhlak mulia dan ketrampilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan, dilaksanakan dengan menggunakan strategi bimbingan klasikal dan dinamika kelompok.

Pelayanan responsif adalah usah pemberian pertolongan kepada peserta didik yang menghadapi masalah, memerlukan bantuan dengan segera, jika tidak ditolong maka menimbulkan hambatan dalam proses pencapaian kerkembangan. Achmd JN (2006, hal. 18) layanan responsif bertujuan membantu peserta didik memenuhi kebutuhn yang dirasakan sangat penting mendadak saat ini, pelayanan responsif lebih bersifat kuratif.

Pelayanan perencanaan individual Diknas (2008) merupakan bantunan kepada peserta didik agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaiatan dengan masa depan berdasarkan kekuatan dan kelemahan dirinya dengan memperhatikan peluang yang ada. Achmd JN (2006, hal. 18) layanan perencanaan individual bertujuan memberikan pertolongan dalam membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karier, sosial dan pribadi. Sementara dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan managemen yang memberi dukungan kepada konselor dalam memberdayakan tiga pelayanan tersebut diatas.

Dari empat pelayanan yang dikemukakan di atas, berdasarkan hasil monitor, observasi, wawancara dan studi dokumenter menunjukan bahwa konselor mengalami kelemahan dalam merencanakan satuan pelayanan dasar bimbingan, khusus pada aspek pemahaman standar kompetensi kemandiria konseli, kompetensi dasar, perumasan tujuan/hasil bimbingan yang ingin dicapai, urain materi, dan pelaksanaan kegiatan serta penilaian hasil bimbingan. Kemampuan dalam merencanakan satuan layanan merupakan permasalahan yang esensial dan urgen. Apabila konselor tidak berbuat berdasarkan pada trilogi profesi yaitu visi dan misi, aksi serta didikasi, maka dampaknya adalah satuan layanan bimbingan akan mandul, ketercapaian kompetensi dasar kemandirian konseli semakin jauh dari kenyataan, atau tidak dapat diujudkan.

Berdasarkan uraian diatas dalam upaya mewujudkan konselor profesional yang mampu meujudkan standar kompeteni kemandirian kanseli, maka peneliti mencoba melakukan pembinaan dengan pendekatan diskusi interaktif dalam membuat satuan layanan dasar bimbingan dan konseling pada guru pembimbingan SMA dan SMK binaan di Kota Padang.

Guru dan konselor aktif mengikuti MGMP, MGP, MGPD, dan KKG secara rutin, baik yang diadakan oleh sekolah maupun tingkat kota. Surat edaran tersebut di atas itu secara inplisit juga mengandung makna bahwa: wawasan, kemampuan dan kinerja konselor perlu ditingkatkan untuk memenuhi standar profesi sebagaimana yang telah diamanatkan, (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, (3) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (4) Permen Diknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru, (5) Permen Diknas Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan.

Untuk mewujudkan guru pembimbing memiliki kemampuan dalam membuat satuan layanan bimbingan dan konseling aplikatif dan komunikatif, maka peneliti mencoba melakukan pembinaan dalam membuat satuan layanan bimbingan dan konseling dengan pendekatan diskusi interaktif kepada guru pembimbingan SMA dan SMK binaan di Kota Padang.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas diperoleh identifikasi sebagai berikut:

1. Ada guru pembimbing yang tidak membuat satuan layanan pada proses pembelajaran/pelayanan di sekolah

2. Ada satuan layanan konseling yang tidak aplikatif dan komunikatif.

3. Ada satuan layanan konseling yang kurang dimengerti oleh konseli

4. Ada aspek dalam satuan layanan yang tidak lengkap diisi oleh guru pembimbing.

5. Kurang semangat membuat satuan layanan konseling oleh guru pembimbing yang bertugas masuk kelas memberikan pelayanan dasar.

6. Pada umumnya guru pembimbing belum memanfaatkan satuan layanan konseling sebagai serana alat bantu pemberian pelayanan dasar

7. Ada pendapat yang berkembang bahwa penggunaan satuan layanan konseling dalam pemberian layanan tidak mempengaruhi hasil layanan.

8. Perlu ada bimbingan untuk meningkatkan kinerja guru pembimbing dalam pembuatan satuan layanan konseling (satlan).

C. Hipotesis Penelitian

Dengan pendekatan diskusi interaktif konselor akan meningkatkan pelaksanaan pelayanan dasar pada SMA dan SMK Negeri binaan di kota Padang.

D. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

Apakah pendekatan diskusi interaktif konselor sekolah dapat meningkatkan pelaksanaan pelayanan dasar bimbingan dan konseling pada SMA dan SMK Negeri binaan di kota Padang


DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman. Dh. 1985. Diskusi Sebagai Alat Untuk Memecahkan Masalah, Jakarta, PT Karya Nusantara
Achmad Juntika Nurihsan, 2007. Bimbingan dan Konseling Dalam berbagai latar Kehidupan. Jakarta; PT Refika Aditama.
Arni Muhammad, 2008. Komunikasi Organisasi. Jakarta, Bumi Akasara
H.M. Taylor dan A.G. Mear, 1984. Rapat Konferensi Diskusi dan mendirikan Organisasi. Pentejemah Anas Siddik. Jakarta, Balai Aksara
Depdiknas, 2007. Peraturan Mendiknas RI Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta; Depdiknas.
Depdiknas, 2007. Peraturan Mendiknas RI Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta; Depdiknas.
Depdiknas, 2007. Panduan Penyususnan Perangkat Portofolio Sartifikasi Guru Dalam Jabatan. Jakarta; Depdiknas.
Depdiknas, 2008. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta Dirjen PMPTK
Depdiknas, 2008. Bahan/Materi Bimbingan Teknis Kurikulum Tingkat Satuan Pendididikan SMA. Jakarta; Depdiknas.
Goldberg, Alvin.A, 1985. Komunikasi Kelompok Diskusi dan Penerapannya. Penterjemah Koesdarinisoemiati, Gary R Jusuf. Jakarta, UI Press.
Masril, 1993. Teras Kuliah Belajar Mengajar, Padang. Angkasa Raya.
Mungin Eddy Wibowo,.2003. Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling, Materi Pelatihan Guru Pembimbing. Jakarta, Dirjen Dikdasmen.
Prayitno, 1995. Buku Seri Bimbingan dan Konseling di Sekolah Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Jakarta Ghalia Indonesia
Prayitno, 2002. Hubungan Pendidikan . Departemen Pendidikan Nasional. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direkrorat SLTP.
Prayitno, 2003. Wawasan dan Landasan BK Buku 1 Materi Pelatihan Kompetensi Guru Pembimbing, Jakarta, Dirjen Dikdasmen.

Untuk mendapatkan File dari BAB 1-5  hub 0856 42 444 991

READ MORE - Pendekatan Diskusi Interaktif Dalam Peningkatan Pelayanan Dasar BK
Sunday, 2 August 2015

Meningkatkan Prestasi Belajar PAI dengan Model Pembelajaran Kolaborasi

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN  MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORASI  PADA SISWA KELAS ….


ABSTRAK


Kata Kunci : PAI , Model Pengajaran Kolaborasi

            Dalam proses pembelajaran yang menyangkut materi, metode, media alat peraga dan sebagainya harus juga mengalami perubahan kearah pembaharuan ( inovasi). Dengan adanya inovasi tersebut diatas dituntut seorang guru untuk lebih kreatif dan inovatif, terutama dalam menentukan model dan metode yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan siswa terutama pembentukan kecakapan hidup ( life skill) siswa yang berpijak pada lingkungan sekitar.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   
            Penelitian ini berdasarkan permasalahan (a) Bagaimanakah peningkatan  prestasi belajar PAI  dengan diterapkannya model pengajaran kolaborasi pada siswa kelas………………… tahun pelajaran……………..( b) Bagaimanakah pengaruh Model pengajaran kolaborasi terhadap motivasi belajar PAI  pada siswa kelas…………………. Tahun pelajaran………….
            Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah (a) ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar PAI  setelah diterapkannya  model pengajaran kolaborasi (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar PAI  setelah diterapkan model pengajaran kolaborasi.            
            Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research)  sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap  yaitu : rancanan, kegiatan dan pengamatan, refleksi dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas  ………………………………………. Tahun pelajaran…………………….. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar.
            Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (73,17%), siklus II (82,93%), siklus III (95,12%)
            Simpulan dari  penelitian ini adalah metode pembelajaran kooperatif dapat berpengaruh positif terhadap prestasi dan motivasi belajar siswa………………………………………………… serta model pembelajarasn  ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran PAI


BAB  I

PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah

                  Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar. Guru ingin memberikan layanan yang terbaik bagi anak didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dengan anak didik.
                  Ketika kegiatan belajar itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Semua kendala yang terjadi dan dapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar, baik yang berpangkal dari perilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar anak didik, harus guru hilangkan, dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas.
                  Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran.
                  Guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran.
                  Kualitas pembelajaran ditentukan oleh interaksi komponen-komponen dalam sistemnya. Yaitu tujuan, bahan ajar (materi), anak didik, sarana, media, metode, partisipasi masyarakat, performance sekolah, dan evaluasi pembelajaran (Moh, Shochib, 1998). Performance sekolah, dan evaluasi pembelajaran (Moh, Shochib, 1998). Optimalisasi komponen ini, menentukan kualitas (proses dan produk) pembelajaran. Upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik adalah melakukan analisis tentang karakteristik setiap komponen dan mensinkronisasikan sehingga ditemukan konsistensi dan keserasian di antaranya untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Karena pembelajaran mulai dari perencana, pelaksanaan dan evaluasinya senantiasa merujuk pada tujuan yang diharapkan untuk dikuasai atau dimiliki oleh anak didik baik instructional effect (sesuai dengan tujuan yang dirancang) maupun nurturrant effect (dampak pengiring) (Moch. Shochib: 1999).
                  Realisasi pencapaian tujuan tersebut, terdapat kegiatan interaksi belajar mengajar terutama yang terjadi di kelas. Dengan demikian, kegiatannya adalah bagaimana terjadi hubungan antara guru/bahan ajar yang didesain dan dengan anak didik. Interaksi ini merupakan proses komunikasi penyampaian pesan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Arief S Sadiman yang menyatakan proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses interaksi yaitu proses penyampaian pesan melalui saluran media/teknik/ metode ke penerima pesan. (Arief S, Sadiman, dkk, 1996:13).
                  Sejalan dengan inovasi pembelajaran akhir-akhir ini termasuk di Sekolah Dasar, yaitu: Kolaborasi. Interaksi belajar mengajarnya menuntut anak didik untuk aktif, kreatif dan senang yang melibatkan secara optimal mental dan fisik mereka. Tingkat keaktifan, kreatifitas, dan kesenangan mereka dalam belajar merupakan rentangan kontinum dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Tetapi idealnya pada kontinum yang tertinggi baik pelibatan aspek mental maupun fisik anak didik. Oleh karena itu, interaksi belajar mengajar dengan paradigma Kolaborasi menuntut anak:
(1)   Berbuat
(2)   Terlibat dalam kegiatan
(3)   Mengamati secara visual
(4)   Mencerap informasi secara verbal
                  Dengan demikian, interaksi belajar mengajar idealnya mampu membelajarkan anak didik berdasarkan problem based learning, authentic instruction, inquiry based learning, project based learning, service learning, and cooperative learning. Pola interaksi yang mampu mengemas hal tersebut dapat mengubah paradigma pembelajaran aktif menjadi paradigma pembelajaran reflektif.
                  Dengan interaksi pembelajaran reflektif dapat membuat anak didik untuk menjadikan hasil belajar sebagai referensi refleksi kritis tentang dampak ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap masyarakat; mengasah kepedulian sosial, mengasah hati nurani, dan bertanggungjawab terhadap karirnya kelak. Kemampuan ini dimiliki anak didik, karena dengan pola interaksi pembelajaran tersebut, dapat membuat anak didik aktif dalam berfikir (mind-on), aktif dalam berbuat (hand-on), mengembangkan kemampuan bertanya, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, dan membudayakan untuk memecahkan permasalahan baik secara personal maupun sosial.
                  Agar hasil ini dapat optimal, guru dituntut untuk mengubah peran dan fungsinya menjadi fasilitator, mediator, mitra belajar anak didik, dan evaluator. Ini berarti, guru harus menciptakan interaksi pembelajaran yang demokratis dan dialogis antara guru dengan anak didik, dan anak didik dengan anak didik (Moh. Shochib: 1999; dan Paul Suparno dkk: 2001).
                  Dengan interaksi pembelajaran yang mengemas nilai-nilai tersebut dapat membuat pembelajaran lingking (link and math atau life skill) dan delinking (pemutusan lingkungan negatif), diversifikasi kurikulum, pembelajaran kontekstual, kurikulum berbasis kompetensi, dan otonomi pendidikan pada tingkat sekolah taman kanak-kanak dengan manajemen berbasis sekolah, dan bertujuan untuk mengupayakan fondasi dan mengembangkan anak untuk memiliki kemampuan yang utuh yang disebut: Pendidikan Anak Seutuhnya (PAS).
                  Pada dasarnya dalam kehidupan suatu bangsa, faktor pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup bangsa tersebut. Secara langsung maupun tidak langsung pendidikan adalah suatu usaha sadar dalam menyiapkan pertumbuhan dan perkembangan anak melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran dan pelatihan bagi kehidupan dimasa yang akan datang. Tentunya hal ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, anggota masyarakat dan orang tua. Untuk mencapai keberhasilan ini perlu dukungan dan partisipasi aktif yang bersifat terus menerus dari semua pihak.
                  Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999).
                  Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru mampu menyampaikan semua mata pelajaran yang tercantum dalam proses pembelajaran secara tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.
              Dengan menyadari kenyataan tersebut di atas, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Dengan Menerapkan Model Pengajaran kolaborasi  Pada Siswa … Tahun Pelajaran …

B.     Rumusan Masalah

                  Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam dengan diterapkannya model pengajaran kolaborasi  pada siswa kelas …. Tahun pelajaran …?
2.      Bagaimanakah pengaruh model pengajaran kolaborasi  terhadap motivasi belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa kelas …. Tahun pelajaran …?

C.      Tujuan Penelitian

                  Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkannya model pengajaran kolaborasi  pada siswa kelas … tahun pelajaran …
2.      Mengetahui pengaruh motivasi belajar Pendidikan Agama Islam setelah diterapkan model pengajaran kolaborasi  pada siswa kelas … tahun pelajaran …
3.      Menyempurnakan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan prestasi belajar pada siswa kelas … tahun pelajaran

D.     Kegunaan Penelitian

                  Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai:
1.      Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar Pendidikan Agama Islam.
2.      Sumbangan pemikiran bagi guru Pendidikan Agama Islam dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar Pendidikan Agama Islam.
3.      Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
4.      Sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
5.      Menerapkan metode yang tepat sesuai dengan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam.

E.      Definisi Operasional Variabel

                  Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Model pengajaran kolaborasi  adalah:
Suatu model pembelajaran dengan menumbuhkan para siswa untuk bekerja sama dalam kelompk-kelompok kecil untuk mencapai tujuan yang sama.
2.      Motivasi belajar adalah:
Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkat laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
3.      Prestasi belajar adalah:
Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.

F.      Batasan Masalah
1.      Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas … tahun pelajaran …
2.      Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret semester genap tahun pelajaran …
3.      Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan…………..


DAFTAR PUSTAKA


Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta.
Azhar, Lalu Muhammad. 1993. Proses Belajar Mengajar Pendidikan. Jakarta: Usaha Nasional.
Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang: Aneka Ilmu.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi UGM.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Hasibuan K.K. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta.
Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes. Surabaya: Universitas Press.
Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya: University Press. Univesitas Negeri Surabaya.
Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.
Sukidin, dkk. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insan Cendekia.
Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars.
Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineksa Cipta.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Untuk mendapatkan File Bab 1-5 hub 0856 42 444 991

READ MORE - Meningkatkan Prestasi Belajar PAI dengan Model Pembelajaran Kolaborasi