Monday, 2 November 2015

MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

UPAYA MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL
PADA SISWA KELAS VIII-3 SMP NEGERI 280 JAKARTA 


Abstrak

Untuk mendapatkan file BAB 1-BAB5 hub 0856 42 444 991


       Hasil belajar matematika siswaSMP Negeri 280 Jakarta masih rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya. Rendahnya hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 280 Jakarta disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya adalah : 1) sebagian siswa masih mengganggap mata pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit, manakutkan dan membosankan; 2) siswa kurang aktif dan kreatif dalam pembelajaran matematika; 3) guru kurang bervariasi dalam menggunakan pendekatan pembelajaran matematika dan cenderung menggunakan pendekatan konvensional. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kontekstual. 
         Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 280 Jakarta, dilaksanakan pada tanggal 20 September sampai 12 Oktober 2004. Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) . Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual pada materi Teorema Pythagoras melalui pendekatan konteks bangun kubus dan balok, telah memberikan kenaikan hasil belajar matematika yang diperoleh siswa. Hal itu ditunjukkan nilai rata-rata pada siklus I nilai rata-rata 6,29 dengan ketuntasan 60,53%, pada silus II nilai rata-rata 6,74 dengan ketuntasan 71,50%, dan pada siklus III nilai rata-rata 7,47 dengan ketuntasan belajar 89,47%. 
 Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara nyata. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajari, maka pendekatan kontekstual sebagai salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat menciptakan pembelajaran aktif inovatif kreatif dan menyenangkan gembira dan berbobot( PAIKEM-GEMBROT).

A.   Latar Belakang Masalah

      Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin kelihatan nyata. Dengan kesadaran ini, pemerintah dan masyarakat, terutama pendidik, mencurahkan sebagian besar tenaga, dana dan pikirannya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Misalnya melakukan perubahan kurikulum, perubahan teknik pengajaran dan penyelenggaraan kerja sama antara lembaga pendidikan dengan lembaga lain (Kadir dan Ma’sum, 1982, 1991-1992). Untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya antara lain, (1) meningkatkan kualitas guru SMP/MTs dari lulusan D1 dan D2 menjadi lulusan S1 penyetaraan, (2) mendirikan sekolah-sekolah baru, dan (3) meningkatkan perbaikan proses belajar mengajar dan hasil belajar melalui pelatihan-pelatihan guru SD, SMP, dan SMA.
     Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), materi Teorema Pythagoras yang berbunyi: “Kuadrat ukuran hipotenusa dari segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat ukuran sisi siku-sikunya”, merupakan materi yang diberikan pada siswa SMP/MTs kelas VIII. Seorang guru harus dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswanya sehingga mudah dipahami. 
      Mengajarkan matematika merupakan suatu kegiatan pembelajaran sedemikian sehingga siswa belajar untuk mendapatkan kemampuan dan ketrampilan tentang matematika. Kemampuan dan ketrampilan tersebut ditandai dengan adanya interaksi yang positif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, yang sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan (Hudaya, 1988:122). Namun dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran khususnya yang berhubungan dengan matematika, ternyata masih banyak mengalami hambatan-hambatan baik yang dialami siswa maupun guru. Salah satu hambatan yang terjadi adalah kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika, hal ini disebabkan kurang tepat pendekatan yang dipergunakan serta kurang optimal dalam pengunaan alat peraga yang ada.
      Seperti yang terjadi di SMP Negeri 280 Jakarta, didapatkan latar belakang siswa sangat bervariasi dalam motivasi belajarnya. Mereka rata-rata dalam belajar tanpa dibekali keinginan untuk memahami konsep-konsep yang diajarkan oleh guru. Mereka kurang dalam mengkaitkan materi satu dengan yang lain. Sehingga yang terjadi mereka kebingungan dan selanjutnya dalam menyelesiakan soal-soal tidak sesuai dengan prosedur.

DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2002, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. ED Rev. Jakarta :
                                           Bumu Aksara.
-------------------------- . 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Bumi Aksara
Wardani Sri, 2005. Pembelajaran Matematika Kontekstual Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika Yogyakarta: PPG Matematika
Adiawan, M, Cholik dan Sugiono. 2003. Matematika Untuk SLTP Kelas 2. Jakarta: Erlangga. 
Djumanta, Wahyudi. 1994. Matematika Untuk SLTP Kelas II. Jakarta: Multi Trust. 
Hudoyo. 1988,  Strategi Mengajar Belajar Matematika, Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. 
Soedjadi. 1985,  Matematika 2 Petunjuk Guru SLTP Kelas 2, Jakarta : Balai Pustaka.
Nurhadi dan Sentuk, Agus, Gerrad. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK. Malang: UM Press. 
Ruseffendi, E.T. 1980. Pengajaran Matematika Modern Untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG. Bandung: Tarsito. 
Soejono. 1984. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial Matematika. Jakarta: Depdikbud.
Sudrajat Ahmad, Tujuh Komponen Dalam CTL: http://abaryans.wordpres.com. diakses tanggal 20 September 2007.
Model Pembelajaran Kontekstual (http://www.google.co.id/d&q=Pendekatan+Kontekstual) diakses pada tanggal         20 Septembe 2007

READ MORE - MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

MENINGKATKAN KOMPETENSI WRITING DI KELAS METODE MIND MAPPING

IMPLEMENTASI METODE MIND MAPPING
UNTUK MENINGKATKAN
KOMPETENSI WRITING DI KELAS VII D
SMPN 15 YOGYAKARTA


ABSTRAK

Untuk mendapatkan File BAB1 - BAB 5 Hub 0856 42 444 991

Di SMP Negeri 15 Yogyakarta banyak siswa kelas VII yang merasa kesulitan dalam menulis teks monolog berbentuk deskriptif. Ini disebabkan karena sedikitnya kosakata yang dihafal dan dimengerti maknanya.serta kurangnya penguasaan tata bahasa atau grammar. Hal ini terjadi karena kebanyakan siswa kurang berminat terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris, karena menganggap Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran yang sulit dan tidak menarik. Hal ini dibuktikan dengan hasil angket penelitian, yang menunjukkan perbedaan hasil, sebelum dan sesudah tindakan dilakukan. Karena itulah peneliti mencoba metode mind mapping untuk mengatasinya. Metode ini cukup menarik, karena menggunakan gambar-gambar hasil kreasi siswa, yang dapat diwarnai dan dihiasi sekehendak siswa serta dapat memunculkan ide dalam menulis.
Hasil pengamatan selama penelitian, menunjukkan bahwa siswa nampak antusias begitu metode mind mapping diperkenalkan hingga diterapkan untuk menulis. Waktu mengerjakan tugaspun, baik tugas kelompok maupun individu, semua dapat mengumpulkan tugas. Hasil ulangan siklus 1, ada 4 siswa yang belum dapat mencapai KKM. Sedang pada siklus 2, tinggal 2 siswa yang belum mencapai KKM     Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan agar guru Bahasa Inggris SMP atau SMA mencoba menggunakan metode mind mapping untuk pembelajaran aspek writing maupun aspek-aspek pembelajaran yang lain. Peneliti percaya, kreatifitas siswa yang luar biasa akan terlihat pada hasil atau gambar  mind mappingnya. Selain dapat menumbuhkan kreatifitas dan menarik, metode ini juga memuat berbagai metode dan dapat memunculkan ide. 

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Mata pelajaran Bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Selain diperlukan penguasaan kosa kata dan tata bahasa, juga diperlukan keterampilan dalam mengaplikasikannya dalam kegiatan komunikasi, baik lesan maupun tulis (Depdiknas, 2006:2). Pada pembelajaran kompetensi atau aspek writing, yang tujuan akhirnya adalah memproduk atau menghasilkan tulisan atau teks baik fungsional maupun monolog berdasarkan genre atau jenis teks, diharapkan siswa dapat memahami ciri-ciri dari suatu teks, dan dapat mengekspresikannya dengan kosa kata dan tata bahasa yang benar.
Di SMP Negeri 15 Yogyakarta, banyak siswa khususnya kelas VII yang merasa kesulitan dalam mengikuti pelajaran Bahasa Inggris khususnya pada aspek writing. Sebagai contoh, pada waktu diberi tugas menulis teks monolog berbentuk descriptive yang sudah ditentukan tema atau judulnya, kebanyakan siswa tidak segera melaksanakan, bahkan malah ditinggal ngobrol dengan teman di dekatnya. Nampak tidak serius dan malas mengerjakannya. Waktu diperingatkan dan ditanya kenapa tidak segera dikerjakan, jawaban mereka : “Sebentar ...”, “Nanti dulu, bu,”, “Sulit, bu,”, “Buat PR aja, bu” ...dan seterusnya yang intinya ingin menghindari tugas itu. Padahal langkah-langkah menulis descriptive sudah peneliti berikan, seperti pola kalimat simple present tense, contoh-contoh cara membuat kalimatnya, menentukan kosa kata yang akan digunakan, yang berkaitan dengan tema yang sedang dipelajari serta generic structurenya juga sudah diberikan. Contoh descriptive text pun sudah diberikan dalam pembelajaran aspek reading. 


DAFTAR PUSTAKA


Agustien, Helena IR. (2006) Kurikulum Bahasa Inggris SMP 2006 . Yogyakarta : 
Jogja English Teachers Association.

BSNP. (2006). SK dan KD Bahasa Inggris – SMP, dilengkapi : SKL. Jakarta : BSNP.

Depdiknas. (2006). Panduan Pengembangan Silabus Mata Pelajaran BAHASA                     
INGGRIS SMP.  Jakarta : Depdiknas Dirjen Manajemen Dikdasmen Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama

Depdiknas. (2006). Panduan Pengembangan RPP Mata Pelajaran BAHASA INGGRIS    
SMP . Jakarta : Depdiknas Dirjen Menejemen Dikdasmen Direktorat Pembinaan SMP.

Depdiknas. (2004) Materi Pelatihan Terintegrasi BAHASA INGGRIS Buku 1. Jakarta : 
Depdiknas Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lamjutan Pertama.

Depdiknas. (2007)  Buku Saku KTSP – SMP. Jakarta : Depdiknas Dirjen Menejemen 
Dikdasmen Direktorat Pembinaan SMP.

Endang K Haris dkk. (1997). English Students Workshop – SLTP Class 1. Bandung : 
PT Remaja Rosda Karya.

http : // www.duniaguru.com/index.php  Hernowo (2007) ”Brain-Based Writing”

http : //www.film pendek.org/Category-29/463-Peta-Pikiran-Mind-Mapping,html

http://en.wikipedia.org/wiki/Mind_map

Indrotomo dkk. (2004) English On Sky 1 for Junior High School Students. Jakarta : 
Erlangga.

Joko Siswanto dkk. (2005) Let’s Talk Grade VII  for Junior High School (SMP / MTs)
Bandung : Pakar Raya.

Kasihani, KE Suyanto dkk. (2005) English In Context 1- untuk SMP Kelas !. Jakarta : 
Bumi Aksara.

Logis. (   ) Buku Ajar Bahasa Inggris Kelas IX Semester 1. Solo : Pustaka Aditama.

Neuroscience Super Learning. (2006) Neuroscience Super Learning Progam BAHASA 
INGGRIS Tahap 1. Yogyakarta : Pelatihan Peningkatan Mutu dan Profeionalisme guru Bahasa Inggris DIY.

Syamsi Kastam. (2006/2007). Penyusunan Proposal dan Laporan PTK. FBS UNY.

Singgih St (1998). Rangkumam Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Mengajar.   Yogyakarta : Penataran Guru SLTP se DIY 12 Desember 1998

READ MORE - MENINGKATKAN KOMPETENSI WRITING DI KELAS METODE MIND MAPPING

MENGUNGKAPKAN MONOLOG DESCRIPTIVE LISAN SEDERHANA

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGUNGKAPKAN
MONOLOG DESCRIPTIVE LISAN SEDERHANA
YANG BERTERIMA SISWA KELAS VIIA SMP NEGERI 2 JABON
MENGGUNAKAN SISTIM ICARE


ABSTRAK

Untuk Mendapatkan File BAB1-BAB5 Hubungi 0856 42 444 991


Hartoyo, 2006. Meningkatkan Keterampilan Mengungkapkan Monolog Descriptive Lisan Sederhana yang Berterima Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 2 Jabon menggunakan Sistim ICARE.

Kata-kata kunci : Monolog Descriptive Lisan Sederhana yang Berterima, Sistim      ICARE 

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini merupakan suatu upaya untuk meningkatkan keterampilan mengungkapkan monolog Descriptive sederhana yang berterima (literary) bagi siswa kelas VIIA di SMP Negeri 2 Jabon Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini sebagai jawaban dari kesulitan guru bahasa Inggris ketika membelajarkan siswa pada siklus lisan. Pelaksanaan (PTK) ini menggunakan tiga siklus dengan sistim ICARE yang melalui lima tahapan yaitu, Introduce (Kenalkan), Connect (Hubungkan), Apply (Terapkan), Reflect (Refleksikan) dan Extend (Perluaslah) pada bahasan Personal Descriptive (Diskripsi Orang) yang terdiri dari sub topik: (1) deskripsi wajah dengan memperkenalkan Possessive Pronoun, (Kata Ganti Milik) “his dan her”, (2) deskripsi postur tubuh dengan mengkaitkan Pronoun as Subject, (Kata Ganti Subyek) “He dan She” dan kata kerja “wears” yang diikuti dengan kata benda yang merujuk pada pakaian (clothes), (3) melaksanakan penilaian individu lanjutan dan melakukan kegiatan remediasi dengan tutor sebaya. Agar pembelajaran bermakna dan menarik bagi siswa, maka pada bahasan Personal Description dikemas untuk mendiskripsikan orang-orang terkenal dengan kriteria penilaian meliputi permahaman kosa kata, pengucapan, kelancaran dan ketepatan menggunakan struktur kalimat. 
Hasil analisis data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan angket siswa secara kualitatif dan secara kuantitaif diperoleh dari dokumen penilaian proses pembelajaran dan secara individu menunjukkan bahwa dengan menggunakan sistim ICARE, dapat meningkatkan keterampilan siswa mengungkapkan monolog descriptive lisan sederhana yang berterima terdapat peningkatan sebagai berikut:      (1) meningkatnya keterampilan siswa mengungkapkan monolog descriptive sederhana, (2) meningkatnya kemampuan siswa didalam menggunakan bahasa Inggris lisan yang beterima dengan pengucapan yang relatif tepat, pada umumnya lancar dan menggunakan struktur kalimat yang tepat, (3) meningkatnya keberanian siswa dalam mengungkapkan monolog descriptive sederhana,

DAFTAR PUSTAKA


Azies,FS & Alwasilah CA. 1996. Penagajaran Bahasa Komunikatif Teori dan    
                 Praktik. Bandung, Remaja Rosdakarya

Decentralized Based Education (DBE),2006. Integrasi Kecakapan Hidup dalam Pembelajaran. USAID Indonesia.

Dirjendikdasmen. 2005. Landasan Filosofi Teoritis Pendidikan Bahasa Inggris
                  Jakarta.

Mills,GE,2000. Action Research A Guide For The Teacher Researcher. Ohio, Shoutern Oregon University.

Permen 22. 2006. Standar Isi Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Jakarta.

Puskur. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMP. Jakarta.

Sudjana,s. 2001. Metoda dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung. Falah 
                   Production.

Suranto, Basowi, Sukidin,2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia.

Surya,M. 2003. Percikan Perjuangan Guru. Semarang, Aneka Ilmu.
Suryadi,A, 1983. Membuat Siswa Aktif Belajar.Bandung, Binacipta.

READ MORE - MENGUNGKAPKAN MONOLOG DESCRIPTIVE LISAN SEDERHANA