Wednesday, 30 March 2016

CONTOH PTK IPS MELALUI METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION


UPAYA MENINGKATKAN KREATIFITAS BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) MELALUI METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DENGAN MEDIA VARIATIF PADA SISWA KELAS V SEMESTER I SD NEGERI


Untuk Mendapatkan File BAB 1-BAB5 Hub 0856 42 444 991


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas belajar IPS menggunakan metode STAD (Student  Teams  Achievement Division)dengan media variatif. STAD merupakan metode tentang pengaturan kelas dan bukan metode pengajaran komprehensif untuk subjek tertentu. Guru dapat menggunakan pelajaran dan materi mereka sendiri. Tujuan utama dari kelompok belajar siswa adalah mempercepat pemahaman semua siswa. Pengaruh metode ini positif bagi siswa yang pintar, sedang maupun yang kurang pintar. Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas II SD N Baturejo 02 yang berjumlah 8 siswa. Sumber data dari penelitian ini adalah guru dan siswa. Bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan tes. Prosedur penelitian meliputi tahap identifikasi masalah, persiapan, penyusunan, rencana tindakan, implementasi tindakan, pengamatan, dan penyusunan rencana. Proses penelitian sendiri dilaksanakan dalam dua siklus, yang masing-masing terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kreatifitas belajar siswa. Keberhasilan tersebut dapat terlihat dari adanya peningkatan persentase kriteria kkratifitas dari tahap pra siklus, siklus I hingga siklus II. Pada tahap pra siklus menunjukkan persentase yang rendah yaitu 37,5% saja yang sudah memenuhi kriteria. Pada siklus I ada peningkatan sebesar 25% menjadi 62,5% dari siswa yang memenuhi kriteria kreatifitas dan pada siklus akhir sebanyak 7 siswa atau 87,5% dari siswa sudah memenuhi kriteria kreatifitas. Hal ini membuktikan bahwa dengan penerapan metode STAD menggunakan media variatif dapat meningkatkan kreatifitas belajar siswa kelas V SD N Baturejo 02.


Kata kunci : Kreatifitas belajar IPS, metode STAD (Student  Teams  Achievement Division), media variatif.


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah pilar utama dalam pembentukan mental/karakter seorang siswa. Pendidikan yang baik akan membentuk mental atau karakter siswa yang lurus dan terarah. Pembinaan mental yang baik pada akhirnya akan bermuara pada kebaikan di kehidupan yang akan datang. Kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan persoalan-persoalan yang rumit. Dengan berbekal pendidikan yang baik, maka siswa akan mempunyai mental/karakter yang kuat, dan mempunyai pengetahuan yang luas.
Kegiatan pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan yang setua dengan dengan usia manusia. Artinya sejak adanya manusia telah ada usaha-usaha pendidikan, dalam rangka memberi kemampuan kepada peserta didik untuk hidup secara mandiri.di dalam masyarakat. Selanjutnya fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pengetahuan yang luas bisa diperoleh dari bangku sekolah. Di sekolah anak- anak akan memperoleh ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru-guru mereka. Dalam pembelajaran guru dan peserta didik sering dihadapkan pada berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun yang menyangkut hubungan sosial. Pemecahan masalah pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara, melalui diskusi kelas, tanya jawab antara guru dan peserta didik, penemuan dan inkuiri. Menumbuhkan kreatifitas dalam pembelajaran IPS bagi siswa SD bukanlah hal yang mudah. Pada dasarnya tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Siswa dituntut untuk dapat mengembangkan kreatifitasnya melalui pembelajaran yang mereka lakukan. Kreatifitas dapat terlihat selama proses pembelajaran maupun dalam bentuk produk-produk hasil belajar. Kreatifitas adalah kemampuan untuk mencipta, daya cipta. Seorang bisa dikatakan kreatif bila menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, di mana penekanannya adalah kepada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban.
Perilaku kreatif adalah hasil dari pemikiran kreatif.  Oleh  karena itu, hendaklah sistem pendidikan dapat merangsang pemikiran, sikap, dan perilaku kreatif-produktif, di samping pemikiran logis dan waktu yang dimiliki anak lebih banyak di rumah dibandingkan keberadaanya di sekolah merupakan sesuatu yang dapat dipergunakan oleh orang tua dalam pengembangan kreativitas. Untuk itu diperlukan perangsang kreativitas sejak kecil sampai dewasa melalui pendidikan formal dan non formal, baik di sekolah, dalam keluarga, maupun di dalam masyarakat.

 
Dengan kreatifitas orang dapat mewujudkan dirinya dan perwujudan diri merupakan kebutuhan pokok dalarn  hidup manusia (dapat menggunakan bakat dan kemampuan dalam hidup). Dengan  berpikir  kreatif, siswa memiliki kernampuan  untuk  melihat bermacam-macam   kemungkinan   penyelesaian terhadap   suatu masalah. Menyibukkan diri secara kreatif, dapat memberikan kepuasan kepada individu. Jadi dengan melatih kreatifitas anak maka tidak mustahil bahwa pembelajaran yang aktif akan tercapai.
Melihat pentingnya kreatifitas dalam diri seseorang, maka peneliti ingin mewujudkan suatu kondisi belajar yang mampu meningkatkan kreatifitas belajar siswa tertama pada mata pelajaran IPS yang cenderung berupa uraian-uraian panjang. Dengan begitu siswa dapat memperoleh makna dari setiap pembelajaran yang ia terima sehingga akan menjadi bekal bagi kehidupannya mendatang. Kondisi yang ada pada saat peneliti melakukan observasi awal justru bertolak belakang dengan tujuan pembelajaran IPS dan sama siswa sama sekali tidak menunjukkan adanya kreatifitas mereka dalam belajar. Dimana tidak terlihat adanya bekal dasar yang diperoleh siswa dalam mengembangkan diri sesuai bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya serta kurang kondusifnya suasana belajar pada saat itu. Suasana belajar masih bersifat klasikal dan monoton.
Berdasarkan daftar nilai ulangan harian IPS di kelas V SD Negeri Baturejo 02, menunjukkan nilai rata-rata siswa yang masih rendah. Selain itu, dari hasil observasi yang dilakukan di kelas V SD Negeri Baturejo 02, guru menjelaskan materi dengan didominasi oleh penggunaan metode ceramah, tanya jawab dan kegiatan lebih berpusat pada guru. Aktivitas siswa dapat dikatakan hanya

 
 mendengarkan penjelasan guru, mencatat hal-hal yang dianggap penting saja, dan menjawab pertanyaan jika ditunjuk, ada pula beberapa siswa yang mengantuk, bermalas-malasan dan melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS serta pentinganya siswa memiliki kreatifitas dalam diri mereka, maka dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjadi jalan tercapainya tujuan tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metode, dan strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan (Kosasih, 1994), agar pembelajaran Pendidikan IPS benar-benar mampu mengkondisikan upaya pembekalan kemampuan dan keterampilan dasar bagi siswa untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Hal ini dikarenakan pengkondisian iklim belajar merupakan aspek penting bagi tercapainya tujuan pendidikan (Aziz Wahab, 1986) Guru yang kreatif senantiasa mencari pendekatan baru dalam memecahkanmasalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton, melainkan memilih variasi lain yang sesuai. Seorang guru tidaklah mudah menciptakan kondisi yang kondusif bagi semua siswa. Ada siswa yang proaktif, ada siswa yang tidak banyak bicara (pendiam) tetapi memiliki kemampuan akademik di atas temannya, dan terdapat pula siswa yang banyak bicara tetapi memiliki kemampuan rendah.
Bahkan, ada siswa dengan kemampuan akademik menengah ke bawah merasa tertekan dengan materi IPS yang penuh dengan teori dan konsep yang rumit bahkan sulit dipahami.

 
Hal tersebutlah yang dapat menyebabkan kurang bermaknanya pelajaran IPS ini, sehingga menyebabkan kreatifitas belajar siswa menjadi rendah dan pembelajaran cenderung pasif. Padahal dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pendekatan pengajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran seharusnya siswa diposisikan sebagai pusat perhatian atau dengan kata lain siswa yang aktif. Metode STAD atau divisi pencapaian kelompok siswa dianggap sebagai metode yang mampu memberi solusi bagi para guru dalam mengajar IPS di SD. Metode ini memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru.
Dalam metode STAD siswa dibagi menjadi kelompok yang beragam kemampuan, jenis kelamin dan sukunya. Guru memberi satu materi berbeda pada masing-masing kelompok. Dengan pemberian materi yang berbeda, siswa diarahkan untuk lebih kreatif dan berani menyampaikan apa yang dipelajarinya di kelompok yang lain.
Metode STAD dapat diterapkan di semua jenis materi, dengan begitu guru tidak harus menjadi penyampai utama materi, tetapi cukup mengarahkan dan menjadi motivator. Siswa juga akan merasa memiliki tanggung jawab untuk bisa menyampaikan materi dengan benar pada kelompok lain. Metode STAD juga dapat dikolaborasikan dengan berbagai bentuk media, guru dapat memberi materi dalam bentuk gambar kemudian siswa mendeskripsikan tentang materi yang sesuai gambar, brosur, selebaran atau makalah.
Penggunaan berbagai media ditujukan agar siswa tidak mengalami kebosanan, media juga dapat dibedakan untuk masing-masing kelompok. Guru

 
 pun dapat memberi kesempatan pada siswa untuk menyampaiakan materi dengan gaya mereka atau menggunakan media yang mereka sukai. Dari semua kegiatan di atas akan terlihat kreatifitas siswa dalam belajar IPS, sehingga hasil belajar siswa diharapkan dapat meningkat.
Dari latar belakang di atas maka peneliti mengadakan sebuah penelitian yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kreatifitas Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Melalui Metode Student Teams Achievement Division (Stad) Dengan Media Variatif Pada Siswa Kelas V Semester I SD Negeri Baturejo 02 Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Tahun pelajaran 2012/2013”.





READ MORE - CONTOH PTK IPS MELALUI METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION
Tuesday, 29 March 2016

PRAKTIK TINDAKAN KELAS MENINGKATKAN KEAKTIFAN PEMBELAJARAN PKN SMP

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN CARD SORT KOLABORASI SMALL GROUP DISCUSSION SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MATERI PERLINDUNGAN DAN PENEGAKANHAK ASASI MANUSIA (HAM) PADA SISWA VIIA SMP 



Untuk Mendapatkan Bab1-Bab5 hub 0856 42 444 991

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran PKn materi perlindungan dan penegakan hak asasi manusia (HAM) pada siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Jumapolo tahun 2011  melalui penggunaan metode card sort kolaborasi small group disscussion. Sebelum diberikan tindakan keaktifan siswa kurang dan guru sudah mengupayakan alternatif pemecahannya dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi kelompok. Akan tetapi penerapan metode tersebut belum mampu meningkatkan keaktifan siswa. Solusi yang ditawarkan oleh penelitian adalah dengan menggunakan metode pembelajaran card sort kolaborasi small group disscussion. Data penelitian ini dikumpulkan melalui informan atau narasumber, tempat dan peristiwa berlangsungnya aktifitas pembelajaran. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Prosedur dalam penelitian ini terdapat empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus. Diharapkan dengan penerapan strategi pembelajaran card sort kolaborasi small group disscussion. keaktifan siswa dalam proses pembelajaran PKn materi perlindungan dan penegakan hak asasi manusia (HAM) pada siswa kelas VII A SMP Negeri 3 Jumapolo Tahun 2011 dapat meningkat minimal 75% dari 27 siswa.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat keaktifan siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi perlindungan dan penegakan hak asasi manusia (HAM) pada kelas VII A SMP Negeri 3 Jumapolo yaitu dari yang aktif bertanya, berpendapat, dan menjawab pertanyaan yaitu sebelum diadakannya tindakan dengan menggunakan strategi pembelajaran card sort kolaborasi small group disscussion siswa yang aktif materi perlindungan dan penegakan hak asasi manusia sebanyak 10 siswa atau 37,7%. Setelah dilakukan tindakan yang telah disepakati yaitu menerapkan strategi pembelajaran card sord kolaborasi small group disscussion, siklus I meningkat menjadi 12 siswa atau 44,4% dan siklus II meningkat menjadi 20 siswa atau 74,1%. Hasil penelitian ini telah melampaui indikator kinerja. Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian tindakan kelas ini, hipotesis yang menyatakan “Diduga dari penggunaan metode card sort kolaborasi small group discussion, dapat Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Proses Pembelajaran PKn Materi perlindungan dan penegakan hak asasi manusia (HAM) Pada Siswa Kelas VII A SMP Negeri 3 Jumapolo Karanganyar  Tahun 2011” terbukti dan dapat diterima kebenarannya.

Kata Kunci: Strategi pembelajaran, Card Sort kolaborasi small group disscussion,    Keaktifan, Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat.

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang didapat mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi, yang menekankan pada pembentukan karakter bangsa, agar menjadi warga negara yang baik, yakni warga negara yang mampu melaksanakan hak dan kewajiban didalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sesuai dengan UUD 1945 dan hukum yang berlaku.
Pendidikan Kewarganegaraan diterapkan mulai dari sekolah dasar kemudian tingkat sekolah menengah pertama dengan tujuan untuk mengembangkan pengetahuan yang telah didapat ketika sekolah dasar dan memberi kemampuan untuk lebih aktif ketika proses pembelajaran serta memberikan bekal untuk kedepan yaitu kejenjang pendidikan selanjutnya. Agar mencapai tujuan tersebut diperlukan guru yang memahami tentang cara mengajar yang baik dengan menerapkan metode yang sesuai dengan tingkatan dan kemampuan peserta didik, selain hal itu juga diperlukan sarana dan prasarana yang menunjang serta kurikulum yang sesuai. Guru sebelum mengajar perlu adanya perencanaan agar ketika proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan guru harus bisa mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa, agar siswa memiliki kreatifitas yang bisa dikembangkan, begitupaun sebaliknya siswa diwajibkan mempunyai minat dan motivasi yang tinggi dalam belajar, sehingga guru akan lebih bangga dan bisa memberikan sesuatu yang lebih baik untuk siswa
Guru yang baik adalah dengan mendidik siswanya sesuai dengan ketentuan dan kurikulum yang berlaku. Serta penerapan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa tidak merasa bosan. Kewajiban sebagai seorang guru yaitu menyediakan lingkungan belajar yang efektif, kreatif dan menyenangkan siswa ketika kegiatan belajar di kelas. Salah satu cara yang harus dilakukan guru yaitu dengan memperbaiki setiap proses pembelajaran dan menerapakan metode yang menyenangkan siswa guna mencapai tujuan pembelajaran.
Materi perlindungan dan penegakan hak asasi manusia (HAM) merupakan salah satu materi mata pelajaran PKn yang dipelajari di SMP kelas VIIA semester II di SMP Negeri 3 Jumapolo. Pemahaman siswa tentang materi Pelaksanaan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia (HAM) sangat kurang. Hal ini dikarenakan keaktifan siswa pada waktu mengikuti materi ini, baik dalam bertanya maupun menjawab pertanyaan sangat kurang. Jumlah siswa dalam satu kelas adalah 27 siswa. Dari jumlah siswa tersebut hanya 10 orang yang aktif dalam mengikuti materi perlindungan dan penegakan hak asasi manusia (HAM) baik yang bertanya dan berpendapat serta menjawab pertanyaan. Sementara itu sebanyak 12 siswa tidak aktif dalam mengikuti materi tersebut. Keadaan tersebut menjadi lebih buruk oleh kurangnya kreativitas guru dalam menggunakan strategi pembelajaran.
Adanya masalah-masalah tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas tentang “Penerapan Strategi Pembelajaran Card Sort Kolaborasi dengan Small Group Discussion Sebagai Upaya Meningkatkan Keaktifan dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Perlindungan dan Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) Pada Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 3 Jumapolo Tahun 2011”.

B.  Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut: “Apakah penggunaan metode Card Sort kolaborasi Small Group Discussion dapat meningkatkan keaktifan dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi perlindungan dan penegakan hak asasi manusia (HAM) pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Jumapolo Tahun 2011?”.
C.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Tujuan Umum
a.       Untuk meningkatkan keaktifan dalam proses pembelajaran PKn pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Jumapolo Tahun 2011.
b.       Untuk meningkatkan konsentrasi dalam proses pembelajaran PKn pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Jumapolo Tahun 2011.
c.       Untuk meningkatkan pemahaman dalam proses pembelajaran PKn pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Jumapolo Tahun 2011.
2.    Tujuan Khusus
Untuk meningkatkan keaktifan dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Perlindungan dan Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Jumapolo Tahun 2011 melalui penggunaan metode Card Sort  kolaborasi Small Group Discussion.

D. Manfaat atau Kegunaan Penelitian
1.    Manfaat atau kegunaan Teoritis
a.       Mendapatkan teori baru untuk meningkatkan keaktifan dalam proses pembelajaran PKn pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Jumapolo.
b.      Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk kegiatan penelitian selanjutnya.
2.    Manfaat atau Kegunaaan Praktis
a.    Manfaat  bagi guru: untuk mengetahui keaktifan dan pemahaman siswa kaitannya dengan materi perlindungan dan penegakan hak asasi manusia (HAM).
b.    Manfaat bagi siswa: untuk memfokuskan keaktifan serta pemahaman siswa pada materi pelajaran sehingga prestasi yang diperoleh juga bagus.

c.    Manfaat bagi sekolah: sebagai input yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam melaksanakan program kegiatan belajar siswa di masa yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Kansil, C.S.T dan Cristine. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan Perguruan Tinggi. Jakarta: Pradnya Paramita.

 Irenewati, Terry. 2007.  Optimalisasi Penerapan Metode Small Group Discussion dalam Pembelajaran Mata Kulian Sejarah Australia dan Oceania di Program Studi Pendidikan Sejarah. (Penelitian). Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi UNY. (http://www.google.com) diakses Minggu, 18 April 2011 pukul 21.40).

Miles, B. Mathew dan Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif (Buku Sumber tentang Metode-metode Baru). Jakarta: UIP.

Moleong, Lexi J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nawawi, Hadari dan Martini Hadari. 1992. Instrument Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Purwitosari, Mamik. 2009. Peningkatan Keaktifan Belajar Matematika Dengan Strategi Pembelajarn Card Sort Dikelas IV Semester I SD WONOKERTO 3 (PTK Di SD Wonokerto 3 Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sagala, Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Silberman, Mel. 2001. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta.: Insan Madani.

Sriyono, dkk. 1992. Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyarto. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan SMP Kelas VII. Surakarta: Grahadi.

Tim Penyusun Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran (Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yng Kreatif dan Efektif). Jakarta: Bumi Aksara.


Zaini, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Insan Madani.


READ MORE - PRAKTIK TINDAKAN KELAS MENINGKATKAN KEAKTIFAN PEMBELAJARAN PKN SMP

DOWNLOAD CONTOH PTK PAUD MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENJAWAB PERTANYAAN

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENJAWAB PERTANYAANSEDERHANA MELALUI METODE PERMAINAN KARTU GAMBAR DI TK PERTIWI


Untuk Mendapatkan File BAB 1-BAB 5 0856 42 444 991


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan kepribadian, pengetahuan dan keterampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup. Aspek yang dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini adalah aspek pengembangan perilaku dengan pembiasaan meliputi sosial, emosi, kemandirian, nilai moral dan agama serta pengembangan kemampuan dasar yang meliputi pengembangan bahasa, kognitif, seni dan fisik motorik. Salah satu aspek penting yang perlu dikembangkan adalah bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena disamping berfungsi sebagai alat untuk menyatakan pikiran juga berfungsi sebagai alat untuk memahami perasaan dan pikiran orang lain.
Dengan bahasa, mereka akan mudah dalam bergaul dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga pengembangan bahasa di Taman Kanak- Kanak sangatlah penting, karena kemampuan berbahasa merupakan dasar dalam memahami secara utuh hakekat bahasa yang berhubungan dengan pembelajaran pada anak. Kemampuan berbahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dimana pikiran dan perasaan individu dinyatakan dengan lambang atau simbol seperti lisan, tulisan, isyarat, ekspresi wajah, pantomime maupun seni yang digunakan untuk mengungkapkan perasaannya.
Pengembangan kemampuan berbahasa anak dapat dikembangkan melalui menjawab pertanyaan sederhana. Menurut Saidiman (1994:23) bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang. Respon yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berfikir.
Dengan pertanyaan anak akan berusaha menjawab. Usaha untuk menjawab pertanyaan yang diajukan akan merangsang anak untuk memusatkan perhatian, melatih dan mengembangkan daya fikir termasuk daya ingatnya, mengembangkan keberanian dan keterampilan anak dalam menjawab dan mengemukakan pendapat. Apabila anak tidak menjawab pertanyaan yang diajukan guru, maka perkembangan berfikir anak menjadi terhambat sehingga perlu rangsangan agar anak mau menjawab pertanyaan. Meskipun kemampuan menjawab pertanyaan penting, namun mengajarkan ketrampilan ini pada anak tidaklah mudah. Berbagai masalah akan muncul dalam proses pembelajaran, seperti halnya yang terjadi di TK Pertiwi Jonggrangan, Klaten. Berdasarkan observasi diketahui bahwa kemampuan anak menjawab pertanyaan sederhana anak Kelompok A TK Pertiwi Jonggrangan Klaten yang berjumlah 12 masih kurang. Hal ini ditunjukkan dengan hasil observasi ketika menjawab pertanyaan sederhana dari guru. Anak yang mampu menjawab dengan lancar 2 anak, anak yang dapat menjawab dengan dimotivasi 6 anak dan ada 4 anak yang diam saja ketika disuruh menjawab pertanyaan.
Berdasarkan observasi sementara, peneliti menemukan beberapa penyebab masalah tersebut. Pertama guru kurang menguasai tekhnik bertanya. Kedua, anak kurang diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru dan yang ketiga, guru kurang mengoptimalkan alat peraga untuk meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan sederhana anak._ Masalah-masalah tersebut perlu dicari solusinya. Di Sekolah, Guru perlu menguasai teknik-teknik bertanya untuk menghidupkan suasana Tanya jawab. Guru memberi kesempatan kepada anak untuk menjawab pertanyaan. Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan sederhana, guru perlu mengoptimalkan alat peraga dalam hal ini dengan metode permainan kartu gambar. Moeslichatoen (2004:11) menyatakan bahwa anak TK memiliki dorongan yang kuat untuk mengenal dan berusaha untuk menemukan sendiri jawaban yang berkaitan dengan pertanyaan gurunya. Dengan optimalisasi alat peraga dengan kartu gambar, maka anak merasa terangsang untuk menjawab pertanyaan. Kartu gambar juga membantu guru untuk menangani kelas agar lebih baik dan membuat siswa berlatih mengucapkan kosa kata.
Oleh karena itu maka peneliti melakukan inovasi pembelajaran dengan menggunakan kartu gambar pada Anak TK Pertiwi Jonggrangan Klaten. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis memilih judul. “UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENJAWAB PERTANYAAN SEDERHANA MELALUI METODE PERMAINAN KARTU GAMBAR DI TK PERTIWI JONGGRANGAN KLATEN.

B.     Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini selaras dengan identifikasi masalah dikembangkan, maka perlu adanya pembatasan masalah yang akan dikaji sebagai berikut :
1.      Upaya meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan apa, mengapa, dimana, berapa dan bagaimana melalui metode permainan kartu gambar.
2.      Permainan kartu gambar terbatas pada gambar yang sesuai dengan tema pada saat pembelajaran.

C.    Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dari identifikasi masalah, maka masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah metode permainan kartu gambar dapat meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan pada anak kelompok A di TK Pertiwi Jonggrangan, Klaten?

D.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan sederhana melalui metode permainan kartu gambar di TK Pertiwi Jonggrangan Klaten.
2.      Tujuan Khusus

Untuk mengetahui peningkatan kemampuan anak dalam menjawab pertanyaan sederhana melalui metode permainan kartu gambar.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto, Suharsini, Suhardjono, Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Azhar Arsyat. 1983. Media Pembelajaran. Semarang: Widya Karya.

Basuki Wibawa. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas.

Dhieni, Fridani dkk. 2006. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.

Guntur Tarigan, Henry. 1983. Menyimak Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Isjoni. 2010. Model Pembelajaran Anak Usia Dini. Bandung: Alfabeta.

Metode Khusus Pengembangan Kemampuan Berbahasa TK 1996. Jakarta: Depdikbud.

Moeslichaton. 2004. Metode Pengajaran Anak TK. Jakarta: Rineka Cipta.

Meleong, Lexy. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyati, Yeti, dkk. 2008. Bahasa Indonesia. Jakarta Universitas Terbuka.

Nazir Moh. 1995. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

Partini. 2010. Pengantar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Grafindo Litera Media

Pengembangan Ketrampilan Berbahasa Anak Usia Pra Sekolah. 2004. Departemen Pendidikan Nasional.

Suhartono. 2005. Pengembangan Ketrampilan Bicara Anak Usia Dini. Jakarta: Diknas.


Suharso, Ana Retnaningsih. 2009. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya.
READ MORE - DOWNLOAD CONTOH PTK PAUD MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENJAWAB PERTANYAAN