Monday, 18 April 2016

DOWNLOAD CONTOH PTK TK PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOGNITIF

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOGNITIF MELALUI PERMAINAN MENCARI PASANGAN PADA ANAK KELOMPOK A DI TK xxx TAHUN PELAJARAN 2012/2013


Untuk Mendapatkan File BAB1-5 Hub 0856 42 444 991

ABSTRAK
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOGNITIF
MELALUI PERMAINAN MENCARI PASANGAN PADA ANAK KELOMPOK A DI TK xxxx  TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak TK melalui permainan mencari pasangan pada anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 3 Salawati Kabupaten Sorong Tahun Pelajaran 2012/2013. Efektifitas permainan mencari pasangan dengan menggunakan alat peraga kartu bilangan dan benda konkret. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pedoman penelitian unjuk kerja yang dilakukan anak dan observasi. Penelitian ini dirancang dengan penelitian tindakan kelas (PTK). (contok ptk tk pegembangan kemampuan kognitif) Pada setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan dua siklus, dimana pada siklus I belum berhasil, karena belum terbiasa dengan menggunakan metode permainan mencari pasangan. Hasil yang dicapai anak yang terendah pada siklus I 56,25% sedangkan pada siklus II berhasil dengan baik, hal ini ditandai dengan meningkatnya nilai yang telah diperoleh anak dan terlihat lebih aktif dengan nilai yang terendahpadasiklus II yaitu 81,25%.Dengan demikian dapat diketahui bahwa pembelajaran kognitif dengan menggunakan metode permainan mencari pasangan lebih efektif dan efisien serta hasil yang memuaskan.

Kata kunci :kognitif, permainan, mencari pasangan. (download contoh ptk tk)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dalam Undang – Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya yang ditunjukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut ( UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 ayat 14 ).
Penyelenggaraan PAUD jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK)/Raudhatul Athfal (RA) dan bentuk lain yang sederajat, yang menggunakan program untuk anak usia 4 – 6 tahun. Sedangkan pada penyelenggaraan PAUD jalur pendidikan non formal berbentuk TPA dan bentuk lain yang sederajat yang menggunakan program untuk anak usia 0 – 2 tahun kelompok olderinfant, umur 2 – 3 tahun kelompok toddler, usia 3 – 4 tahun kelompok bermain atau playgroup dan usia 4 – 6 tahun kelompok Taman Kanak-kanak atau kindergarten.
Taman Kanak-Kanak merupakan pendidikan formal sebelum jenjang lanjutan. Makna formal dapat diartikan bahwa harus memenuhi beberapa persyaratan dalam menyelenggarakan pendidikannya, seperti kurikulum yang berstruktur, tenaga pendidik (guru), tata administrasi serta sarana dan prasarananya. Taman Kanak-Kanak merupakan tempat anak bermain sehingga anak mempunyai teman yang banyak dan dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan suasana yang baru. Penyelenggaraan pendidikan untuk anak usia dini umumnya dilaksanakan di kelas secara formal dan harus dilaksanakan dengan perasaan senang dan tidak kaku. (praktik tindakan kelas tk pengembangan kemampuan kognitif melalui permainan)
Dalam pembelajaran di Taman Kanak-kanak ada 5 aspek pengembangan yang harus dikembangkan yaitu Nilai Agama dan Moral, Sosial Emosi, Fisik Motorik yang dibagi menjadi 2, yaitu motorik halus dan motorik kasar, bahasa dan kognitif.
Kemampuan kognitif diperlukan oleh anak dalam rangka mengembangkan pengetahuan apa saja yang dilihat, didengar, di raba maupun dicium melalui panca indra yang dimilikinya. Di Taman Kanak -kanak pengembangan kognitif di kenal juga dengan istilah pengembangan daya pikir. Anak dalam berpikir dapat menguraikan, menghubung-hubungkan sampai akhirnya mengambil keputusan dengan cepat dalam Sujiono dkk (2007:1.4).
Dalam pembelajaran kognitif ada beberapa indikator yang perlu dikembangkan salahsatunya adalah anak mampu mengenal berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Bila anak hanya dikenalkan dengan lambang bilangan saja tanpa diberi benda konkret maka akibatnya anak tidak mempunyai kemampuan berhitung. Menurut Carl Witherington dalam Usman dan Praja (1998) dalam Sujiono dkk. (2007:1.16) intelegensi merupakan kesempatan bertindak sebagaimana dimanifestasikan dalam kemampuan atau tindakan-tindakan salah satunya fasilitas dalam menggunakan bilangan dan angka. (contoh PTK paud)
Berhitung pada anak kelompok A hanya pengenalan dari 1 – 10, tapi faktanya anak kelompok A bisa menghafal 1 – 10 saja tetapi tidak mengerti makna angka yang mereka sebutkan. Selain itu juga jika angka-angka tersebut diacak maka merekapun tidak paham dengan nilai angka tersebut. Penyebab terjadinya permasalahan diatas disebabkan oleh pembelajaran guru yang hanya memberi penugasan. Anak hanya dikenalkan pada lambang bilangan tanpa disertai dengan benda yang riil. Anak dalam pembelajarannya akan mudah menerima stimulus bila stimulus itu diberikan sesuai dengan kenyataan yang ada di lingkungannya.Contohnya orangtua kebanyakan hanya mengenalkan angka tanpa disertai dengan benda riilnya, akibatnya ank hanya tahu angka namun tidak mengetahui jumlah dari nilai angka yang disebutkan. Selain dari proses pembelajaran yang telah dilakukan, penyebab yang mempengaruhi kemampuan kognitif anak yaitu pembelajaran yang diterima anak dalam lingkungan keluarga. Misalnya yang terjadi di TK Aisyiyah 3 Bustanul Athfal Salawati adalah ada seorang anak yang sejak bayi jarang diajak berkomunikasi dengan orangtuanya, bahkan untuk bermain keluar rumah saja dilarang. Akibatnya anak tersebut kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang ada disekitarnya. Di sekolah tersebut juga, jika bukan guru yang biasa mengajar di kelasnya, anak tersebut kurang bisa memberi respon dengan baik. Sehingga lingkungan keluarga juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan kognitif anak. (download PTK TK permainan mencari pasangan)
Berdasarkan permasalahan yang dihadapi di kelompok A maka perlu diupayakan kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan kognitif. Salah satu kegiatan pembelajaran yang memungkinkan dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak dengan menggunakan metode permainan mencari pasangan. Alasan peneliti menggunakan metode mencari pasangan karena pembelajaran di Taman Kanak-Kanak sebaiknya belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Dalam jiwa anak-anak bermain merupakan kegiatan yang serius, oleh sebab itu justru saat bermainlah anak-anak lebih menikmatinya dibandingkan dengan keadaan yang serius.Mengenal bilangan menjadi masalah berat bagi anak apabila seorang guru tidak mengetahui cara dan tehnik yang tepat untuk mengajar. Namun jika seorang guru mempunyai cara yang menarik dan mudah dipahami oleh anak, maka pembelajaran menghitung merupakan kegiatan yang menyenangkan. Anak diberi alat peraga yang konkret agar ingatannya tahan lama dan diberi kartu bilangan untuk memperkenalkan angkanya. Dengan metode permainan mencari pasangan proses pembelajaran lebih menarik dan anak merasa senang diajak belajar menghitung benda-benda dan menyebutkan jumlahnya yang dikenalkan melalui kartu bilangan yang sudah disiapkan oleh guru.
Dengan dasar tersebut maka peneliti memilih judul:”Pengembangan Kemampuan Kognitif Melalui Permainan Mencari Pasangan Pada Anak Kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 3 Salawati Kabupaten Sorong Tahun Pelajaran 2012/2013”.(Download ptk tk)

B.     PEMBATASAN MASALAH
1.      Kemampuan kognitif dibatasi pada kemampuan berhitung.
2.      Permainan mencari pasangan dibatasi pada memasangkan antara lambang bilangan dengan bendanya.

C.     RUMUSAN MASALAH
Apakah kemampuan kognitif dalam berhitung dapat dikembangkan melalui metode permainan mencari pasangan pada anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 3 Salawati Tahun Pelajaran 2012/2013.

D.    TUJUAN PENELITIAN
1.      Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 3 Salawati Kabupaten Sorong Tahun Pelajaran 2012/2013.
2.      Tujuan Khusus
Untuk meningkatkan Kemampuan Kognitif anak TK Melalui permainan mencari pasangan pada Anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 3 Salawati Kabupaten Sorong Tahun Pelajaran 2012/2013. (contoh ptk tk)

E.     MANFAAT PENELITIAN
1.      Manfaat bagi siswa
a.       Anak lebih mengetahui makna dari lambang bilangan tersebut.
b.      Permainan yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak serta mudah diingat.
c.       Melatih anak untuk berani mengungkapkan pendapatnya.
2.      Manfaat bagi guru
a.       Guru dapat mempertimbangkan metode yang telah diterapkan oleh peneliti.
b.      Hasil penelitian ini dapat dipilih guru untuk mengembangkan kreativitas anak.
c.       Meningkatkan kreatifitas guru dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat.
3.      Manfaat bagi Kepala Sekolah
Dengan metode yang dikembangkan oleh peneliti, kepala sekolah dapat mengambil kebijakan dalam pengembangan bahan ajar yang diperlukan oleh guru.
4.      Manfaat bagi Kampus

Dapat dijadikan referensi dan bahan rujukan bagi peneliti lain. (download contoh ptk taman kanak-kanan)


DAFTAR PUSTAKA

Astuti Wili, 2011. Bermain dan Tehnik Permainan. Solo Baru: Qinant

A.S. Wayan, 2011. KTSP Kurikulum TK/RA. Jakarta: C.V. Az-zahra

Darsinah. 2011. Perkembangan Kognitif. Solobaru: Qinant

D.Wijana Widarmi, dkk. 2008. Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas terbuka

Daryanto, Hasto. 2011. Profesi Pendidikan Anak Usia Dini. Modul.

Hany, Eprilia Umi. 2011. Perkembangan Nilai Moral, Agama, Sosial dan emosi Pada anak Usia dini. Solo Baru; Qinant

Maryadi, dkk., 2010. Pedoman Penulisan Skripsi FKIP. Surakarta: BP-FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta

Montolalu BEF, dkk. 2008. Bermain dan Permainan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka

Maryatun, Uswatun Hasanah, Arina. 2011. Pengasuhan anak. Solo Baru: Qinant

Sujiono,Yuliani Nurani kk., 2007. Metode Pengembangan kognitif. Jakarta: Universitas Terbuka

Surtikanti. 2011. Media dan sumber Belajar untuk anak usia dini. Modul

Wardhani, Igak dkk., 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka

Winataputra, Udin S. dkk., 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka


Widyasari, Choiriyah. 2011. Kreatifitas dan Keberbakatan. Solo Baru: Qinant


READ MORE - DOWNLOAD CONTOH PTK TK PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOGNITIF
Tuesday, 12 April 2016

DOWNLOAD CONTOH PTK TATA BUSANA SMP MEDIA ALAT PERAGA

PENGGUNAAN MEDIA ALAT PERAGA UNTUK MENINGKATKANPENGUASAAN MATERI TATA BUSANA KELAS IX C SMP 

Untuk mendapatkan file BAB 1-BAB 5 hub 0856 42 444 991



ABSTRAK


Penggunaan Media Alat Peraga untuk Meningkatkan Penguasaan Materi Tata Busana Kels IX C SMP Negeri 3 Nguter Kabupaten Sukoharjo


Tujuan dari diaksanakannya peneitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Langkah-langkah penggunaan media alat peraga untuk meningkatkan penguasaan materi Tata Busana pada siswa Kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter tahun pelajaran 2011/2012; (2) Besarnya peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa setelah penggunaan media alat peraga.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dengan dua siklus pada semester gasal. Penelitian dilaksanakan di kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter. Analisis data dilakukan dengan metode kualitatif, dengan jumlah sampel siswa 30 anak.
Hasil penelitian adalah sebagai berikut (1) Pelaksanaan pembelajaran tata busana dengan media alat peraga dilaksanakan dengan multi media yang menyajikan gambar diam dan bergerak (video). Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan gambar diam dan bergerak untuk dua tahap penting, yaitu: (a) Tahap pengantar, dimana gGambar diam dan bergerak digunakan untuk menyajikan berbagai fakta sebelum diberikan konsep pembelajaran; (b) Tahap konsep, dimana gambar dan video digunakan untuk membantu menjelaskan konsep secara visual; (2) Penggunaan media alat peraga dipadukan dengan metode diskusi dan pengulangan konsep-konsep penting dalam setiap sesinya oleh guru; (3) Penggunaan media alat peraga yang memanfaatkan multi media dapat meningkatkan penguasaan materi siswa dalam bidang tata busana, yang diindikasikan dengan tercapainya target nilai dan KKM yang ditetapkan guru pada siklu II. (download contoh ptk smp)




 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bidang studi Tata Busana sampai saat ini masih menjadi masalah bagi siswa, dimana tidak banyak siswa yang dapat memperagakan pelatihan sendiri di rumah, sedangkan materi tata busana menuntut banyak adanya praktikum atau peragaan. Sebagai dampaknya, pembelajaran tata busana hanya menjadi hafalan, dan siswa kurang mampu mengetahui berbagai proses implementasi konsep dalam praktek nyata. Berdasarkan hasil wawancara survay awal yang dilakukan pada sejumlah siswa kelas IX C, sebagai dampak dari hal tersebut adalah sulitnya siswa mengerjakan test dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam bidang tata busana. Hal ini juga dapat dilihat dari angka ketuntasan belajar siswa Kelas IX C di SMP Negeri 3 Nguter Kabupaten Sukoharjo, di mana dari 30 anak yang ada, baru 16 anak atau 53,3% siswa yang mencapai ketuntasan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa bidang studi Tata Busana merupakan bidang studi yang sulit dan perlu mendapat perhatian khusus dari pendidik(contoh praktik tindakan kelas smp materi tata busana)
1
 
Bidang studi tata busana pada banyak melibatkan aspek-aspek visual yang menlibatkan indera pengihatan secara maksimal, seperti dalam materi tentang pemotongan kain, pembuatan pola pakaian, dan lainnya. Guru tata busana perlu untuk memiliki kemampuan atau  menggunakan media tertentu dalam menyampaikan informasi-informasi atau pengetahuan-pengetahuan yang dapat memberikan kejelasan bagi siswa, sehingga konsep-konsep yang seharusnya perlu melibatkan indera penglihatan dapat disampaikan secara optimal. Dengan demikian, maka dalam pembelajaran tata busana perlu dilakukan penggunaan media pembelajaran yang mampu memberikan gambaran yang jelas pada siswa terkait dengan visualisasi konsep, visualisasi proses, maupun visualisasi output pada siswa. (download contoh ptk media alat peraga)
Pandangan tentang perlunya penggunaan media pembelajaran mengacu pada konsep yang menjelaskan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi yang mengandung lima komponen yaitu komunikasi, guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. Media pembeajaran merupakan salah satu komponen yang peru diperhatikan untuk mendukung tercapainya komunikasi yang efektif dari pendidik kepada siswa. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar (Santyasa, 2007). Ha ini juga sesuai dengan penjeasan dari Criticos (1996) yang mengemukakan bahwa media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai sarana pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. (download contoh ptk smp)
Alat peraga sifatnya lebih mampu memberikan pengalaman riil kepada siswa karena siswa dapat melihat, merasakan dan meraba alat peraga yang digunakan guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Dale tentang kerucut pengalaman sebagaimana dikutip oleh Hamalik (1996) yang menjelaskan bahwa pengalaman berlangsung  dari tingkat yang konkrit naik menuju tingkat yang lebih abstrak.  Alasan lain adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Yulinda (2001) bahwa dalam pembelajaran Tata Busana selama ini dunia nyata hanya dijadikan tempat mengaplikasikan konsep-konsep semata. Siswa banyak mengalami kesulitan belajar Tata Busana di kelas. Akibatnya, siswa kurang menghayati atau memahami konsep-konsep Tata Busana, dan siswa mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan Tata Busana dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Tata Busana di kelas perlu ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep Tata Busana dengan pengalaman anak sehari-hari. Alasan lain khusnya terkait dengan materi  tata busana, materi ini merupakan materi yang lebih berhubungan dengan hal yang bersifat konkrit, yaitu membahas tentang berbagai konsep pakaian (fashion) yang banyak dijumpai daam kehidupan nyata. Dengan demikian, maka media pembelajaran diyakini cukup relevan untuk mendukung proses pembeajaran tata busana pada siswa. (ptk tata busana smp)
Alat peraga yang digunakan merupakan benda-benda tiruan yang memiiki bentuk sesuai dengan benda aslinya. Kesesuaian yang dimaksud bukanah selalu sama persis dengan aslinya, akan tetapi lebih ditekankan pada kesesuaian elemen-elemen yang berperan dalam memberikan bentuk benda. Media benda konkrit dapat membantu siswa berfikir secara konkrit menuju pada tahap berfikir secara abstrak. Hal ini terjadi karena melalui media benda konkrit maka pendidik dapat menyampaikan tentang unsur-unsur yang menyusunnya dan bagaimana mematematisasi unsur-unsur tersebut untuk proses perhitungan yang bersifat abstrak. (ptk smp tata busana)
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis mengadakan penelitian dengan judul “Penggunaan Media Alat Peraga untuk Meningkatkan Penguasaan Materi Tata Busana Pada Siswa Kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter”.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah:
1.        Bagaimanakah penggunaan media alat peraga untuk meningkatkan penguasaan materi Tata Busana pada siswa Kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter tahun pelajaran 2011/2012?”
2.        Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa setelah penggunaan media alat peraga? (praktik tindakan kelas media alat peraga)

C.     Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari diaksanakannya peneitian ini adalah untuk mengetahui:
1.        Langkah-langkah penggunaan media alat peraga untuk meningkatkan penguasaan materi Tata Busana pada siswa Kelas IX C SMP Negeri 3 Nguter tahun pelajaran 2011/2012.
2.        Besarnya peningkatan prestasi belajar yang dicapai siswa setelah penggunaan media alat peraga.

D.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.    Manfaat Teoretis
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan tentang penggunaan alat peraga dalam bidang studi Tata Busana. (contoh ptk smp)
2.    Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai barikut:
a.    Bagi Guru
Hasil penelitian diharapkan dapat  memberikan sumbangan pemikiran kepada guru tentang cara pembelajaran dengan menggunakan media konkrit untuk materi tata busana.
b.    Bagi sekolah

Hasil penelitian diharapkan dapat menambah kekayaan referensi tentang strategi pembelajaran dalam bidang studi Tata Busana.

DAFTAR PUSTAKA

Zulkiyah Ahmad. 2009.  Problematika Pembelajaran Keterampilan Tata Busana

Arief S .Sadiman. 1986. Media Pendidikan,  Jakarta: Rajawali

Ari Asnaldi. 2008. Teori-Teori Belajar Proses Perubahan.
Criticos, C. 1996. Media selection. Plomp, T., & Ely, D. P. (Eds.): International Encyclopedia of Educational Technology, 2nd edition. New York: Elsevier Science, Inc.

Heru Subiyantoro. 2008. Hasil Belajar dan Pengukurannya. Jakarta: Rineka Cipta
Ibrahim, H., Sihkabuden, Suprijanta, & Kustiawan, U. 2001. Media pembelajaran: Bahan sajian program pendidikan akta mengajar. FIP. UM.

Ingridwati Kurnia. 2007. Perkembangan belajar Peserta DidKi. Jakarta: Dirjen Dikti Departeman Pendidikan Nasional. (download ptk smp kelas IX)

I Wayan Santyasa. 2007. Media Pembelajaran. Workshop Media Pembelajaran bagi Guru-Guru SMA Negeri Banjar Angkan. Pada tanggal 10 Januari 2007 . Bandung: Universitas Ganesha

Moedjiono. 1981. Media pendidikan III: Cara pembukaan media pendidikan. Jakarta: P3G. Depdikbud.

Oemar Hamalik. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka martina

Slametto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Sadiman, A.S. 1986. Media pendidikan: pengeratian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: Cv. Rajawali. (download contoh ptk smp)
READ MORE - DOWNLOAD CONTOH PTK TATA BUSANA SMP MEDIA ALAT PERAGA

CONTOH PTK TATA BUSANA SMP DENGAN MOTIVASI PSIKOLOGIS

PEMBERIAN MOTIVASI PSIKOLOGIS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TATA BUSANA PADA SISWA KELAS IX B SMP XXXX  TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Untuk mendapatkan file BAB1-BAB5 hub 0856 42 444 991

ABSTRAK

PEMBERIAN MOTIVASI PSIKOLOGIS UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TATA BUSANA PADA SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 3 NGUTER TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Langkah-langkah pemberian motivasi belajar pada siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana; (2) Besarnya peningkatan prestasi belajar siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana setelah dilakukan upaya pemberian motivasi belajar.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yaitu penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dalam rangka melakukan perubahan pada diri siswa menuju arah yang lebih baik. Dalam penelitian ini, dilakukan uji coba tindakan pemberian motivasi psikologis kepada siswa sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Pelaksanaan penelitian dilakukan di kelas IX B SMP Negeri 3 Nguter tahun 2009/2010 semester genap. Analisis data dilakukan secara kualitatif.
Hasil penelitian adalah: (1) Pelaksanaan pemberian motivasi psikologis dalam pembelajaran tata busana dilakukan dengan (a) Memberikan harapan terbaik; (b) mempelajari kebutuhan dan mendukung tercapainya kebutuhan anak; (c) Mengkondisikan bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang fatal, akan tetapi justru menjadi petunjuk bahwa apa yang dilakukan merupakan hal yang tak boleh terulang.; (contoh ptk smp kelas 9) (d) Menopang keinginan anak; (e) Menggunakan keteladanan; (f) Menggunakan keteladanan; (g) Memberikan pujian, meskipun terhadap keberhasilan yang sangat kecil; (h) Memadukan motivasi positif dan negative; (i) Membangun hasrat bersaing; (j) Menciptakan kerjasama; (2) Pemberian motivasi psikologis mampu meningkatkan prestasi tata busana siswa kelas IX B menjadi melenihi target yang ditetapkan guru, baik dari segi nilai rata-rata kelas siswa maupun dari segi ketuntasan belajar siswa. (download contoh ptk smp tata busana


 
BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar belakang Masalah
Sekolah sebagai satuan pendidikan merupakan ujung tombak bagi pengembangan sumber daya manusia bangsa Indonesia. Sekolah memiliki arti penting untuk membentuk atau mencetak kader-kader penerus yang berwawasan keilmuan serta memiliki pengalaman maupun keterampilan sehingga mereka mampu mengambil peranan nyata dalam pembangunan bangsa Indonesia, serta dalam turut meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di dunia internasional. Dengan demikian, maka pengembangan kualitas dunia pendidikan di sekolah merupakan syarat utama dan pertama dalam rangka pengembangan daya saing bangsa Indonesia. (meningkatkan prestasi belajar dengan motivasi psikologis
Guru yang profesional merupakan unsur yang utama dalam membangun kualitas pendidikan anak  karena guru merupakan sumberdaya manusia yang berperan dalam mengatur strategi penyelenggaraan proses pembelajaran untuk mengubah perilaku siswa menuju yang lebih baik melalui tranformasi pengetahuan, pengalaman, maupun dengan melakukan upaya-upaya pemecahan masalah yang terjadi dalam pendidikan. Pemahaman mengenai peran guru dalam mengajar bukan hanya sekedar melaksanakan kegiatan mentransformasi pengetahuan saja,  tetapi juga dalam  proses membimbing kegiatan belajar anak. Mulyasa (2006: 35) mengemukakan peran-peran guru dalam dunia pendidikan sebagai berikut:
1.    Guru sebagai pendidik. Sebagai pendidik, guru dianggap menjadi tokoh panutan, dan identifikasi bagi peserta didik dan lingkungannya.
2.    Guru sebagai pengajar. Guru memiliki tugas dalam suatu proses pembelajaran. Peran guru sebagai pengajar ini merupakan peran yang sangat umum dan dipahami oleh masyarakat, dimana guru memberikan pembelajaran materi-materi pada siswa yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahui siswa. Dalam hal ini, guru merupakan media pentransfer pengetahuan. (download contoh ptk tata busana SMP
3.    Guru sebagai pembimbing. Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (journey) yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas perjalanan tersebut. Perjalanan siswa dalam pendidikan bukanlah perjalanan dalam arti fisik, akan tetapi perjalanan dalam arti aspek mental, emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks
4.    Guru sebagai pelatih. Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan adanya pelatihan ketrampilan, baik untelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk betrtindak sebagai pelatih.
5.    Guru sebagai penasehat. Guru adalah penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua siswa, meskipun guru tidak melakukan pelatihan khusus untuk berperan sebagai penasehat professional. (praktik tindakan kelas smp kelas 9
6.    Guru sebagai pembaharu (innovator). Guru menterjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bernakna bagi peserta didik.
7.    Guru sebagai model dan teladan.  Guru merupakan model atau teladan bagi peserta didik maupun bagi semua orang yang mengganggap dirinya sebagai guru. Sikap, tindakan, dan kepribadian guru merupakan suatu indikator yang sangat diperhatikan oleh peserta didik. Guru merupakan suatu acuan bagi perilaku siswa.
8.    Guru sebagai pribadi. Sebagai individu yang berkecimpung dalam dunia pendidikan,  guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan sebagai seorang pendidik
9.    Guru sebagai peneliti. Pembelajaran merupakan suatu seni yang memerlukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kondisi lingkungan. Untuk itu diperlukan penelitian-penelitian pendidikan yang melibatkan guru. Keaktivan guru dalam mengembangkan penelitian kependidikan merupakan hal yang sangat penting bagi keberhasilan proses belajar-mengajar.
10.    Guru sebagai pendorong kreativitas. Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru harus memiliki kemampuan dalam mendemonstrasikan kreativitas. Dengan demikian, maka guru memiliki peranan dalam menunjukkan, memicu, mendorong, dan memunculkan kreativitas siswa. (ptk tata busana smp kelas IX
11.    Guru sebagai pembangkit pandangan. Siswa belajar untuk mengetahui hal yang belum diketahuinya. Dalam hal ini, guru merupakan salah satu aktor utama yang memiliki peran dalam mentransfer pengetahuan serta memberikan pandangan-pandangan tentang suatu hal kepada siswa. Siswa yang belum memiliki cara pandang tersendiri terhadap suatu hal cenderung akan mengikuti bagaimana gurunya memandang suatu hal, oleh karena guru dianggap sebagai model atau sosok yang lebih memahami hal tersebut.
12.    Guru sebagai pekerja rutin. Guru bekerja dengan ketrampilan, dan kebiasaan tertentu serta kegiatan rutin yang sangat diperlukan.
Penjelasan-penjelasan tersebut mengindikasikan besarnya peran guru dalam menentukan keberhasilan proses pendidikan di sekolah. Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai pendidik merupakan salah satu kunci bagi prestasi belajar siswa. Guru memiliki peranan dalam membimbing dan mendorong siswa menuju kreativitas belajar, sehingga guru dituntut untuk mampu mengembangkan berbagai langkah-langkah taktis dalam rangka mendorong siswa menunju prestasi belajar yang tinggi. Salah satu cara yang dapat dikembangkan guru dalam rangka mendorong siswa menunju proses pembelajaran yang penuh antusias untuk mencapai prestasi yang tinggi adalah dengan mengembangkan cara-cara pemberian motivasi psikologis pada siswa.
Menurut konsep yang dijelaskan oleh Makmun (2005: 37) motivasi dapat dipahami sebagai berikut:
Motivasi merupakan suatu kekuatan atau power atau tenaga (forces) atau daya atau suatu keadaan yang kompleks (complex states) dan kesiapsediaan (preparatory set) dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu baik disadari maupun tidak. Motivasi timbul dan tumbuh berkembang dengan jalan datang dari dalam diri individu sendiri (intrinsik) dan datang dari lingkungan (ekstrinsik) Makmun (2005: 37).
Menurut Manullang (2009: 43), motivasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu motivasi materiil dan non materiil. Motivasi materiil merupakan motivasi yang diberikan dengan cara memberikan hal-hal yang bersifat fisik seperti uang atau penghargaan fisik lainnya sehingga seseorang menjadi lebih terdorong untuk melakukan suatu hal, sedangkan motivasi non materiil atau motivasi psikologis merupakan dorongan yang dilakukan dengan cara memberikan kepuasan-kepuasan tertentu seperti penghargaan sehingga seseorang menjadi lebih terdorong untuk melakukan suatu hal tertentu.
Di SMP Negeri 3 Nguter, khususnya pada siswa kelas IX B Tahun Pelajaran 2009/2010, fenomena rendahnya minat belajar siswa dalam pembelajaran tata busana sangat banyak dijumpai. Berdasarkan polling yang dilakukan, terdapat 46,7 siswa yang memiliki keinginan belajar yang rendah dalam pembelajaran tata busana. Rendahnya keinginan belajar tersebut menjadi faktor pengganggu terhadap keberhasilan proses pembelajaran keterampilan tata busana di kelas. Rendahnya minat belajar tersebut menunjukkan rendahnya motivasi belajar siswa yang dapat berdampak pada turunnya prestasi belajar siswa, sehingga hal ini perlu ditangani oleh guru dengan baik. Prestasi belajar tata busana siswa kelas IX B juga belum bagus, dimana nilai rata-rata kelas belum mencapai 7,5 dan ketuntasan belajar siswa belum mencapai 75% siswa yang tuntas belajar.
Berdasarkan atas hal-hal yang telah diuraikan, maka  dianggap perlu  untuk dilakukan penelitian yang berjudul “Upaya Pemberian Motivasi Psikologis untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Tata Busana Pada Siswa Kelas IX B SMP Negeri 3 Nguter Tahun Pelajaran 2009/2010”.


B.       Identifikasi Masalah
Bersadarkan atas latar belakang masalah yang telah dikemukakan, dapat diidentifikasi adanya masalah sebagai berikut:
1.    Di SMP Negeri 3 Nguter Tahun Pelajaran 2009/2010, dijumpai fenomena rendahnya keinginan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran tata busana di sekolah.
2.    Prestasi belajar tata busana siswa kelas IX B belum bagus, dimana nilai rata-rata kelas belum mencapai 7,5 dan ketuntasan belajar siswa belum mencapai 75% siswa yang tuntas belajar(contoh ptk tata busana

C.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang  masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, disusun rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah langkah-langkah pemberian motivasi psikologis pada siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana?
2.    Seberapa besarkah peningkatan prestasi belajar siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana setelah dilakukan upaya pemberian motivasi psikologis?





D.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal berikut:
1.      Langkah-langkah pemberian motivasi belajar pada siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana.
2.    Besarnya peningkatan prestasi belajar siswa kelas IX B untuk materi pembelajaran tata busana setelah dilakukan upaya pemberian motivasi belajar.

E.       Kegunaan Penelitian
Kegunaan atau manfaat yang diharapkan dari dilaksanakannya penelitian ini meliputi beberapa aspek, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.         Manfaat Teoritis
a.         Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan khasanah pengetahuan dalam bidang psikologi kependidikan, yang  secara khusus menyoroti upaya pemberian motivasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
b.        Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi landasan maupun referensi bagi penelitian psikologi kependidikan sejenis.
2.         Manfaat Praktis
a.         Penelitian ini diharapkan dapat menjadi memberikan dorongan bagi guru dalam mempelajari ilmu-ilmu yang mengarah pada fungsi guru yang lebih kompleks dari sekedar mengajar, dan diharapkan mampu menjadi sumber informasi bagi arti penting peranan guru  dalam dunia pendidikan. 
b.        Penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi bagi para pengambil keputusan di bidang pendidikan guna mengembangkan suatu system pendidikan yang tidak mengesampingkan arti penting peran guru tergadap perkembangan siswa. (download contoh ptk smp tata busana


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Barnadib, Sutari Imam. 1984. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: IKIP
DePorter, Bobby. 1999. Quantum Teaching. Jakarta: Kaifa
Greegory, Hansen. 1988. Motivation Technique in Education. New York, McGraw Hill.
Handerson, Van. 2002. Human Resource Development. Terjemahan Anwar Azhar. Jakarta: Gramedia.
Ismail dan Bambang Triyanto. 2007. Pedoman Menulis Skripsi. Sukoharjo: Univet Bantara Press
Makmun, H.A 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya
Karini, Kartono. 1986. Psikologi Sosial dan Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali
Yusuf, Mahmud, 2006. Pengantar Psikologi Anak dan Perkembangan. Jakarta: Ramadhani
Muhaimin, 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Kajian Filosofis dan 
Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung: Triganda, 1993

Mulyasa, E. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya
Majid, Abdul. 2007. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prasetya Irawan. 1994. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar Bahan Ajar. Jakarta: Dikti Depdikbud.
Purwanto, M. Ngalim. 1998. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda
Ridwan, Rifai.1992. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Rini, Martina dan tasmin. 2002. Belajar Lebih Penting Daripada Bermain?  e-psikologi.
Simanjuntak, B. 1994. Latar Belakang Kenakalan Anak. Jakarta: Rineka Cipta
Sondang P. Siagian. 1995. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta
Soetomo.1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Tilaar, H.A.R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.
Walgito, Bomo. 1993. Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset
Zuhairini, 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya : Usaha nasional.
Zuhairi, 1987. Guru dan Peranannya dalam Pendidikan. Jakarta: Ghalia
READ MORE - CONTOH PTK TATA BUSANA SMP DENGAN MOTIVASI PSIKOLOGIS